RSS
Write some words about you and your blog here

Pages

Saturday, June 2, 2012

Berbagi Suka

aneh..
kemudian malam ini memutuskan untuk menulis sesuatu yang tidak pernah ditulis sebelumnyakata-kata sarat makna hingga menyembunyikan makna bahkan jadi andalan kinisaya akan banyak atau mungkin sedikit bercerita tentang banyak hal tentang sayasemua awalnya karena seorang teman yang bertanya apa yang disuka dan tak disuka kemudian dia menebak bagaimana kita
"bisa begitu?"bisa mungkin..
maka sedikit bercerita tentang objek yang juga subjek tapi bukan kata keterangan pastinya
apa yang saya suka

baiklah



saya suka sekali Kopi, mari kita ulang kata-kata ini sebanyaknya kopi, kopi, kopi, kopi, kopi, coffee. ya saya suka sekali kopi."i love coffee and coffee love me" selalu percaya bahwa kopi juga suka sama saya.
banyak yang bilang kopi berbahaya tapi buat saya lebih berbahaya jika saya tidak ngopi.
saya suka proses membuatnya, merasakannya, meneguknya, dan jadi teman saya disaat tak ada yang bisa sekalipun. dia ada di pagi hari, siang hari, malam, lalu pagi lagi, dan selalu. Sampai dalam hati saya suka bertekad suatu saat akan saya buka tempat minum kopi yang sangat menyenangkan dan ajaib.







Lalu, saya suka Biru. suka sekali warna biru. Biru itu tenang seperti laut, Biru itu tak bertepi layaknya langit, Biru itu anugrah dari sebuah warna. 


Saya kemudian suka dengan momentum bernama Pagi. momentum tercepat dengan jutaan partikel ajaib yang minta diraih. saya suka pagi dengan matahari yang malu-malu. orang-orang yang berjalan cepat bahkan kadang harus suka lengkap dengan suara klakson mobil yang panik karena detik berlalu lebih cepat. saya suka pagi dengan rumput yang masih basah oleh hujan semalam. saya suka pagi meskipun tak ada sapaan dari manusia spesial karena pagi akan menjelma jadi spesial meski tanpa seorang manusia spesial.


Lalu saya suka Musik yang kemudian punya cerita. nada-nada yang mengalun kemudian seiring dengan gerakan lanhkah, degup jantung, aliran darah, tempat berkuasa dan banyak hal. beberapa yang saya suka, dari sekian banyak lagi yang saya suka.









itu hanya sebagian dari banyak sekali yang saya suka. saya dengar banyak dan cerna banyak dan suka banyak. tapi mereka saya suka. Selalu suka. banyak hal yang bisa jadi bahan saat kita mulai dengan musik. Musik apa yang kau dengar? maka lalu jadi panjang, pasti obrolannya.


Saya suka sekali buah jeruk sangat, Jeruk adalah buah yang sangat buah, dan bittersweet.


Saya suka menulis. suka sekali. suka baca juga pastinya. tapi suka menulis. suka sekali. menulis adalah bagian yang sangat menyenangkan. sama menyenangkannya dengan tertawa, dengan berlari, menyenangkan.


 Belle is noted for being the first Disney Princess to have brown hair and hazel-brown eyes. She is the only daughter of an aspiring inventor named Maurice. Though not very rebellious, Belle, a book-lover, is intelligent, stubborn and outspoken, and exhibits some traits offeminism throughout the film. In the first film Belle dreams of leaving her provincial village life and having adventures "in the great, wide somewhere", like the ones she reads about in her books.


 i cant describe that.. suka sekali!


Saya suka malam di Australia dengan banyak lampu, apalagi jika habis hujan, dan kita lihat dari dalam bis kota. itu indah. Tapi tak terlalu suka malam gelap. saya suka yang ini. jadi bukan malam yang lengkap, karena perlu pelengkap.

saya suka bercerita, tertawa, berlari, lompat, berbicara, dan banyak momentum yang saya suka.
Ada pasti yang tak saya suka, tapi saya ternyata suka berbagi yang saya suka dibanding yang tidak saya suka.

dan pastinya..
saya selalu suka jika ada yang baca semua tulisan yang saya rangkai.

ini tidak penting
tapi mungkin jadi menyenangkan
dan saya suka jika membuat orang lain senang.

suka tak suka disuka menyukai, aah, mari terjebak atas kosakata sarat makna.
dan saya suka tanda, dibanding
dan kalau tak penting, maka saya kembali mengutip kata-kata chairil
"bukan maksudku berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing"



Kisah #1

manusia bergerak dan berubah
ada yang datang ada yang baru saja pergi
atau sudah lama pergi dan belum kembali
atau menunggu untuk diraih


saya tak pernah merencanakannya

karena sudah ada yang merencanakannya
kadang saya ingin banyak yang tak boleh pergi cukup datang dan jangan pergi
ada banyak juga memang yang tak pergi


dulu saya pernah mengharapkan yang pergi itu kembali

tapi mungkin..itu harga mahal!
kini saya mengharapkan yang baru datang

dia yang saya rencanakan dan menunggu rencananya

kalau dia datang

jangan pergi..
saya sudah tak ingin yang pergi kembali

maka beri kan saya yang belum datang itu sungguh datang
ya ya ya.. berbelit belit
tapi ada satu pastinya yang tak datang tak pergi tak kembali dan tetap ada


itu saya
kadang diri kita sendiri memang teman yang paling sejati.

Friday, June 1, 2012

Why I Love Rain..

Saya tidak tahu mengapa saya menyukai hujan. Tidak tahu mengapa dari sekian banyak fenomena alam, harus hujan yang jadi favorit, bahkan nomor satu dalam daftar hal-hal favorit milik saya.

Kalau kata Shinchi di komik Detective Conan, "kadang kita tidak butuh alasan untuk menyukai atau membenci sesatu."

Atau, "what comes from heart, touched heart deep."

Mungkin saya simpel menyukai hujan karena pernah ada yang pernah memberikan saya momen di sebuah hujan; ada juga yang pernah membuat saya menangis ditengah hujan; ada yang pernah memberikan saya air hujan sebagai sebuah kado terindah--terbaik--sampai sejuah ini; ada yang pernah membuat saya menyadari bahwa hujan sama halnya seperti manusia - cepat datang, cepat pergi.

Saya tidak pernah tahu.

Sama ketika saya - atau banyak orang diluar sana - memilih untuk mencintai/menyayangi seseorang.

Ada sebuah novel, keluaran Gagas Media berjudul "Marrigeable" yang menulis begini: Sama kayak orang tua ke kita. Mereka tidak pernah bisa memilih anaknya mau seperti apa, yang mereka tahu cuma nerima. Dan apapun bentuknya, mereka bersyukur.

Dari dulu, kita selalu diajarkan untuk mencintai sesuatu tanpa alasan. Dari kecil. Saat kita mempunyai orang tua, kita tidak pernah punya alasan signifikan kenapa harus menyanyangi mereka, selain karena mereka memang mereka adalah orang tua kita.

Atau ketika seorang wanita berusaha menjaga mati-matian anak di dalam rahimnya, tanpa peduli, anak ini cacat/tidak, sempurna/tidak. They just love. A pure love.

Dan ketika ada orang yang bilang, mencintailah dengan matamu..... shoot you!

Kalau dari kecil kita sudah diajarkan untuk mencintai tidak dengan mata, kalau sekarang kita melakukan itu pada orang lain, tidak apa-apa, kan?

Equibilum

Setelah berlari cukup lama, akhirnya saya kembali di sini. Di titik nol. Equibilum. Ketika seluruh jiwa lelah diajak kabur-kaburan; dengan pekerjaan, dengan sekolah, dengan 'perbincangan' lewat dunia lain, dengan tidur.... ketika seluruh objek untuk lari dari kenyataan itu tidak bisa lagi mengalihkan saya dari kamu, ternyata saya hanya bisa tersenyum, tertawa.

Seluruhnya melebur dalam satu momen. Satu momen yang datang tanpa disengaja. Satu momen yang selalu saya syukuri keberadaannya. Satu momen yang indah untuk diingat, sakit untuk dikenang--sebuah transformik yang berbanding terbalik.

Karena, sejauh manapun saya berlari, kamu tidak kemana-mana. Kamu tetap berada di pikiran saya, di hati saya, di otak saya, di tempat yang sama. Tidak berjalan kemana-mana.

Sunday, May 13, 2012

Dia yang Tidak Boleh Disebut Namanya


Semua orang tahu, semua orang mengerti bahwa ketika kita mencintai seseorang akan ada dua hal yang kita terima dari mereka: bertepuk sebelah tangan atautidak bertepuk sebelah tangan. Merasakan cinta sendiri adalah hal paling harafiah dari seorang manusia.

Dan Cinta, dengan nama yang arti harafiahnya adalah cinta, malah membenci bahkan terkesan mengutuk arti kata cinta. Menurut Cinta, cinta adalah jenis kata yang membuat orang harus jatuh bangun hanya untuk merasakannya.

Dan bagi Cinta, cinta adalah......... Dia yang tidak boleh disebut namanya.

Cinta sendiri tidak mengerti, ia hanya mau belajar dari kesalahan bahwa cinta bukanlah lolipop, dari awal sampai akhir manis, lalu dibuang pada akhirnya. Menurut Cinta, cinta adalah hal yang sebaliknya: habis manis sepah dibuang. Sepah, sepet. Semuanya.

Cinta menyimpulkan hal ini bukan karena alasan yang sepogoh-pogoh ia lontarkan sendiri tanpa adanya observasi. Cinta sudah mengobservasi mengenai cinta itu. Rasanya, sakitnya, pedihnya, manisnya, bagusnya - semuanya seperti permen sugus.

Namun, ada satu hal yang tidak Cinta mengerti mengenai cinta. Satu hal krusial dan menimpa banyak orang: kita jatuh satu, mereka datang satu. Cinta bisa datang dan pergi sesukanya, itulah manusia, begitupula dengan cinta. Bersama dengan cinta yang datang dan pergi, perasaan yang sudah diobservasi oleh Cinta pun otomatis akan datang berulang-ulang seperti rekaan wilayah alur-mundur plot sebuah cerita.

Dan begitulah kenyataannya: Cinta tidak tahu ia sedang didatangi (kembali) oleh cinta, oleh dia yang tidak boleh disebut namanya, oleh.......................... cinta.

Mimpi


Semua orang punya mimpi. Semua orang punya sesuatu yang mereka jadikanpoint of life atau base line dari hidup mereka. Biasanya, mimpi awal mereka dimulai dari masa TK, dimana guru-guru bertanya disela waktu 3-jam-sekolah-yang-isinya-hanya-bermain-main-itu, 'mau jadi apa anak-anak?'


Dan jawaban terlumrah keluar dari bibir-bibir kecil mereka, 'dokter!' atau 'pilot!' atau 'presiden!'. Sesudahnya, semakin mereka beranjak besar, mereka mulai tahu bahwa itu adalah hal yang dinamakan cita-cita. Mereka mulai belajar soal passion, mereka mulai belajar soal mengayomi hidup.


Namun kenyataannya, semakin kita dewasa, sesaknya kehidupan urban membuat kita jadi kurang begitu memahami lagi arti kata passion. Yang penting uang datang, yang penting kejayaan kita nomor satu--dan kita mulai kurang memikirkan soal yang namanya nurani, hati, atau cinta.


Karena kenyatannya, banyak sekali remaja dewasa atau pra-remaja yang belum bisa memilah mana passion utama mereka. Yang masih bingung kalau ditanya, 'mau jadi apa kamu 5 tahun kedepan?'


Padahal, kenyataan terbesar saat ini adalah, passion atau minat atau bakat atau keinginan adalah hal penting ditengah sesaknya kehidupan urban yang ada. Banyak orang yang bertahan pada bidang hukum, mau sebanyak apapun hafalan didalamnya, karena memang mereka punya passion besar disana. Atau, banyak orang bertahan di bidang desain, menggali rongga-rongga turbelensi otak mereka demi mencari yang dinamakan kreatifitas--semua mereka jalani dengan baik, tanpa mengeluh, karena memang disitulah passion mereka.


Beruntung, saya berada di satu momentum, dimana saya bisa melihat orang-orang muda berusaha segigih mungkin meraih mimpinya. Dari mereka saya belajar untuk mencari, menggali, dan menapaki apa yang dinamakan mimpi.


Namun, setelah sekian lama berjalan, saya masih juga diliputi pertanyaan besar soal mimpi itu. Banyak kenapa, banyak ketakutan, banyak progresi realitas yang muncul disana. Namun, akhirnya saya bertahan, mencoba melepaskan satu-satu yang tidak penting, mempertahankan yang benar-benar saya inginkan.


Dunia yang benar-benar ingin saya geluti, tanpa harus bertanya soal benar atau salah.


Namun, hidup adalah yin dan yang. Ketika saya menemukan diri saya sudah menemukan mimpi, saya masih melihat orang muda diluar sana berjalan tanpa tahu mau membawa hidup mereka kemana. Yang ada hanyalah hari ini, dan besok perlu apa.


Mereka bersekolah, hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi mereka (baca: ijazah), tanpa mencari makanan utama mereka yaitu mimpi.


Dewi Lestari dalam Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh menjelaskan dengan cukup detail bagaimana seseorang berjalan dengan lingkungan, hanya menerima soal apa yang salah dan benar dalam lingkungannya, tanpa tahu apa keinginan pribadinya. Lewat seperempat abad, ia baru tahu apa mimpinya, apa passion nya, apa yang menjadi mimpinya.


Saya tidak mau, sungguh tidak mau kalau itu kejadian dalam diri kita sebagai remaja.


Saya sendiri tidak tahu bagaimana caranya mencari mimpi yang benar untuk hidup kalian kedepannya. Saya hanya bisa men-suggest untuk selalu melakukan obrolan dengan diri kalian. Biarkan kalian memanggil nama kalian dan mencari tahu sendiri apa mimpi kalian. Serta, sertakan Allah dalam pencarian itu.


Selamat mencari mimpimu!

Dialog

Aku menutup mataku. Gelap. Semuanya terasa begitu kelabu, bahkan matahari kalah dari gelap yang ada. Sesaat, nafas terhembus, bersamaan dengan lelah yang muncul ke permukaan. Ada apa ini? Mengapa begitu berat melepaskan perasaan yang dasarnya dari diri sendiri? Sudah bertahun lewat, apakah masih susah juga berdialog dengan diri sendiri?

"Jangan mencoba berdialog dengan orang lain kalau masih sukar berdialog dengan diri sendiri--"

Kemana perginya rasa? Kemana perginya mata? Kemana perginya nurani?

"Seseorang pernah berkata bahwa nurani tidak pernah pergi, serta tidak perlu dipertanyakan--betulkah?"

Angin berhembus pelan, tengkuk terasa dingin sesaat, sedetik hilang sudah. Sekarang dunia sudah seperti angin, memberi rasa dan merasa begitu cepatnya dan hanya dalam hitungan sepersekian detik. Masalahnya, ketika semua mulai hilang rasa, ketika semua mulai ditanya rasionalisasinya, dicari ke tepi mana jawabannya?

".....diri sendiri? Mencari ke diri sendiri?"





Angin kembali bertiup. Sepertinya angin sedang dalam mood ingin bermain. Tapi seperti awal tadi, rasanya hanya sebentar... angin mendadak kembali pergi lagi.

................................

Dan aku kembali menutup mataku. Berusaha mencari terang ditengah gelap yang menusuk karena hanya dengan itulah aku bisa bertahan selama gelap masih mendominasi.

Friday, May 4, 2012

Where life will take me?

Where life will take me? Sesuatu yang selalu saya pertanyakan, setiap kali saya mulai jengah dengan segala macam tugas sekolah. Saya kangen menulis, kangen bisa mengerjakan sesuatu yang membuat saya rela tidak tidur tanpa harus mengeluh sebenarnya.

Kadangkala, saya bertanya-tanya, kemana sebenarnya saya harus pergi dan apa yang harus saya putuskan? Semakin bertambah dewasa, ada banyak pikiran melanda otak saya, menjadi sebuah badai otak yang sesungguhnya sudah ada sejak lama, hanya tidak pernah saya selesaikan.

Dua hari lalu saya menonton film Midnight in Paris, dan sekarang mengulang film Morning Glory. Buat saya, film Midnight in Paris bukanlah film yang menceritakan cinta, dan saya berikan nilai 0 untuk plot cerita cintanya. Tapi, ketika membicarakan mengenai bagaimana film itu membawa kita kembali ke Paris masa 20an, menceritakan bagaimana Ernest Hemingway, Pablo Picasso, Salvador Dali, serta segudang nama penulis/seniman lainnya berdiri dan mengamati dunia lewat versi mereka. Bagaimana beratnya suara Hemingway, bagaimana tingginya Hemingway menilai dirinya sendiri.... Saya hanya bisa menelan ludah melihat itu semua.

Atau, bagaimana film Morning Glory membawa saya (kembali) pada satu momen dimana saya bertanya: 'sudah sejauh dan sekeras apa saya berusaha merealisasikan mimpi saya?' Sudah seperti Becky Fuller-kah saya berdiri pada kaki saya untuk berjuang mati-matian akan mimpi yang saya miliki? And Morning Glory slap me like hell when Becky's mom talked, 'When you had your dream at 8, it was amazing and proudly. When you still had the dream at 18, it was inspiring... but when you are at 28 and you still think about your dream, it fully embarrassing.'Saya tidak mau seperti itu.

Saya merasa banyak orang seumur saya sudah berdiri mati-matian untuk mengejar mimpinya. Tapi saya? Hanya di depan buku, mengerjakan segudang tugas yang sejujurnya ingin saya bakar mati. Saya suka ini semua, tapi saya lebih suka membuat cerita dan mengatur plot, atau mewawancara orang, atau meliput sebuah acara. It's why I dream about work on magazine, every single day since I was 13.
Kapan waktunya saya? Kemana hidup akan membawa saya? Dimana semua orang sedang bersusah payah membawa mimpinya, saya malah masih duduk dan berkutat dengan konsep berbagai tugas........ 

Monday, April 23, 2012

Patah Hati

Patah hati itu sebenernya gak selamanya buruk. Dan gak selamanya patah hati itu diidentikan sama orang yang entah cintanya gak terbalas atau apapun yang berkaitan sama cinta.

Patah hati, gue memandangnya sebagai sesuatu yang universal. Rasa kekecewaan yang mendalam terhadap suatu hal. Dan selama SMA, gue sering patah hati.

Terutama, patah hati gara-gara ekspektasi gue terhadap sesuatu gak tercapai karena gue orangnya memang terlampau perfeksionis dan mungkin ini bikin orang sebel karena gue orangnya selalu menargetkan kesempurnaan dalam setiap pekerjaan.

Sebenernya gue sendiri sadar, kalo yang membuat gue demikian itu gue sendiri. Gue memang selalu berekspektasi tinggi terhadap suatu hal terutama masalah akademis dan apa yang menjadi tujuan hidup gue. Sekali ekspektasi gue gak kesampean, gue bisa down banget namun gak lama kemudian bangkit lagi dan terus berusaha sampe gue ngedapetin apa yang gue mau. Itu gara-gara patah hati.

SMA mengajarkan gue banyak hal, terutama karena gue sering patah hati.
Gara-gara patah hati, gue jadi pekerja keras.
Gara-gara patah hati, gue jadi pantang menyerah.
Gara-gara patah hati, gue bersyukur ada orang-orang tertentu yang peduli dan menemani gue dalam menghadapi segala permasalahan.
Gara-gara patah hati, gue jadi orang yang jauh lebih sabar ketimbang dulu.
Gara-gara patah hati, gue belajar jadi orang yang realistis. Gak selamanya yang kita mau bisa kita dapetin. Mau udah berusaha dan berdoa pun, kalo emang Allah gak ngehendakin kita gak bakal dapetin.

Dari semua hal yang bikin gue patah hati, tanpa sadar gue menyapu kepingan yang ada dan mengumpulkannya untuk jadi orang yang lebih baik lagi.
Biar awalnya menyebalkan, tapi sekarang gue bersyukur selama SMA banyak mengalami ‘patah hati’ toh diantara banyak patah hati tersebut masih ada orang-orang tertentu yang membuat gue selalu bersemangat untuk bangkit dan ngumpulin kepingan yang patah. Ibaratnya, teman-teman dan kebahagiaan selama SMA itu lem yang menyambung hati biar utuh lagi walaupun sering patah <3

Mungkin ini post paling crappy yang pernah gue tulis di Blog ini. Tapi daripada tulisan ini tersimpan jadi sampah di otak gue mending ditulis.

Dari orang yang sering patah hati,
Rianda

Wednesday, April 18, 2012

Sebuah catatan kecil

Bahasa yang saya sampaikan adalah bahasa saya.
saya kadang susah berkata-kata ketika ada ruang beroksigen yang memaksa untuk berkata sambil bernafas. melakukan dua hal yang sama....
Bahasa ini terlalu tersirat atau jangan-jangan terlalu tersurat. tapi bukan itu intinya

ini hanya tentang sebuah chaos. sebuah ruangan yang kadang hanya berisi titik. tahukah kamu, bukan seperti itu caranya.

Membentukan kalimat utuh tidak sekedar kamu menaruh titik diakhir kalimaat, terkadang manusia lain disekeliling kamu dan saya, mengharapkan tanda koma, agar kita bisa melanjutkan, agar tak ada tanda seru diakhir.

Ini hanya sesimpel itu. tapii hati-hati, karena ketidakteraturan akan muncul, ya.... akan ada waktunya fraktal mengambil alih untuk ikut bermain dalam loncatan kuantum ini.

Hidup terkadang bukan selalu keharusan, tapi juga pilihan.
jadi, jika selalu berpikir 1+1 selalu berhasil 2, maka ternyata ada orang lain disekeliling kamu dan saya, yang meminta hasil 3 atau bahkan 100. lalu bagaimana?
itulah mengapa jangan kasih titik dibalakangnya, tapi berilah sebuah koma.

Hati-hati dengan loncatan kuantum manusia-manusia yang sudah jenuh akan sistem bifurkasi berpartikel tinggi, manusia-manusia yang benci didikte. manusia-manusia yang memilih menceburkan diri kedalam jurang dan bebas, daripada berada dalam kebun mawar yang penuh aturan-aturan berwarna abu-abu.

Pesan ini tidak ada objeknya, saya berbicara pada siapa saja. bahkan pada titisan langit berwarna merah jingga.
tapi untuk seseorang, ini ada pesannya. saya hanya mencoba merangkum sejenak. apa yang didapat. dari sebuah titik yang diberi, yang membuat saya mendengar tanda seru didapati dari manusia lain disebelah saya. tapi saya diam. saya sudah bilang, ini bahasa saya, bukan disana, disebuah ruang beroksigen yang menghimpit kami untuk berkata sambil bernafas.

Manusia seperti mereka tahu, bahwa apa yang berbahaya dan apa yang tidak. tapii tidak begitu caranya. kita mungkin tahu dan hafal betul peta kota jakarta, tapii ketika kita dipaksa bahkan didikte untuk mengikuti peta yang ada, maka nanti yang timbul adalah sebuah phase sapce, akan banyak fraktal berpartikel kelabu. ini yang haruus kita hindari

"Genggam tanganku tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin SEIRING bukan DIGIRING" itu kuncinya. biarkan kita sendiri yang tahu dan kita sendiri yang menjalankannya, bersama-sama. kadang ada manusia yang tak ingin digiring, tapii biarkan seiring, agar senada. seirama. akan lebih indah..

Saya hanya manusia kecil yang sekarang sedang sibuk berkata pada catatan kecil. tapii setiap kata yang tetulis berharap tidak terbuang sia-sia hanya karena kesoktahuan saya. saya hanya mencoba mencatat apa yang ada tentang hal kecil yang memiliki kekuatan atom berwarna merah muda.

hmh
bukankah hidup terkadang adalah pilihan? bukan keharusan, jadi jangan biarkan titik mengundang tanda seru yang membuat kamu akan terlonjak! tapi taruh sedikit koma diakhirnya, agar ada kata-kata manis yang akan terus dilanjutkan,

tidak ada unsur pesan bahkan dalam tulisan yang terlalu tersirat ini, atau ini hanya sebuah catatan yang amat tersurat, atau tak berarti yang hanya akan membuang energi untuk ditulis bahkan dibaca....
entahlah...
saya hanya mencoba berkata... karena hanya ini yang punya, hanya ini yang saya bisa. manusia kecil dengan bahasa kata-kata.

"Kesedihan tidak pernah membiarkan kebahagiaan datang sendirian ke hidup manusia, padahal seringkali kita tak punya cukup persediaan untuk menjamunya bersamaan.
Begitu banyak rasa sakit dan kehilangan, padahal hidup terlalu singkat untuk semua rasa itu.
Beruntunglah manusia yang tahu apa yang mereka cari, dan diberi cukup waktu untuk mencari.
Karena ada manusia yang tak punya cukup waktu untuk itu, bahkan untuk sekedar mencari tahu apa yang mereka cari.
Hingga pada akhirnya, cuma ada dua hal besar dalam hidup ini.
Kehilangan dan Harapan"

terimakasih untuk sebuah pembelajaran :)

Friday, April 13, 2012

Catatan merah jingga ungu kelabu

"Bukan maksudku berbagi nasib....nasib adalah kesunyian masing-masing"

Sudah lama tak berbagi...
Terlalu banyak kata terpendam, tersembunyi dibalik senyum manis yang terpaksa terpasang. Hanya untuk meramaikan langit. agar langit tak selamanya kelabu. untuk meramaikan langit, dengan semburat merah jingga bersama senyum berwarna ungu.

Baru kemarin hujan turun. butirannya selembut memori berwarna kelabu.
Hari-hari ini ada harapan yang minta diraih. butirannya berdatangan bak pelangi berwarna merah jingga.

Kemarin dan hari ini saya masih mematung tanpa payung...
merasakan butiran hitam lembut...
hanya diam
memandangi memori. melenyapkan harapan...

Ada yang bilang hidup dibiarkan untuk berbagi...
untuk apa?
bukankah nasib adalah kesunyian masing-masing?
kalau saya bisa berjalan dibawah langit berwarna merah jingga..
untuk apa saya kembali mengharapakan manusia berwarna ungu yang menciptakan kelabu

Tapi ruangan dalam hati punya kunci
manusia butuh manusia lain untuk berbagi..
kemudia bertanya?
saya butuh manusia lainkah?
saya sudah punya dalam masa lampau. dalam tubuh berwujud memori
dalam hitungan momentum-momentum waktu berwujud lampau
dalam partikel-partikel bernama masa lalu
dan semuanya tergambar dalam langit bernama memori berwarna ungu kelabu.
mengapa ungu?
mengapa kelabu?
Kenangan akan yang lalu berwarna ungu...
Kenyataan akan kehilanganlah yang berwarna kelabu...

Baru saja...
ada sebuah partikel berwarna merah jingga datang
partikel bernama harapan
sentuhan lembut yang membuat saya berpikir akan hari esok
lalu melihat langit
langit saya sudah merah jingga?
haruskah saya bermain kembali dengan harapan?
harapan bersama partikel berwujud manusia sekarang
haruskah kembali berharap akan momentum bernama masa datang?
momentum yang mungkin akan kembali berwarna kelabu...

saya bingung
saya lelah
saya terjebak dalam momentum waktu yang mempunyai tenaga bifurkasi tinggi akan hal bernama jatuh cinta..

ahh...
saya kembali meneguk secangkir kopi panas berwarna merah marun

harapan? dan memori?
Sekarang ada karena yang lalu juga ada
Dan yang datang akan ada karena sekarang juga ada

lalu?
-saya ragu ada yang mau berbagi nasib bersama saya kembali. Tidak juga Memori ataupun Harapan.-

"Bukan maksudku berbagi nasib...nasib adalah kesunyian masing-masing- (Chairil Anwar

Thursday, April 12, 2012

Cerita senja

Sitta mematung diantara senja merah ungu. Langit diatasnya terasa hanya sejengkal, dirinya yang putih kelabu seakan menyatu dengan senja ungu, lalu menari diantara menara cahaya berbintang jingga. Langit hanya sejengkal di atas kepalanya. diatas harapan yang memutar bersama rangkaian memori abu-abu. 

"Kalau kamu disuruh memilih, kamu pilih harapan? atau memori?" dirinya bertanya pada sesosok purnama disampingnya. hanya berbatas rangkaian berpartikel berkulit asa. 

"Saya pilih harapan" purnama berkata seiring bias senja berpayung merah jingga 

"Saya takut berharap"
"Kenapa Sitta? Karena takut akan terjatuh?"

Sitta kembali mematung diantara bias senja berlilitan awan kelabu. Jatuh. dia sudah pernah terjatuh. duluu. berasama memori yang pernah terbentuk lewat sejuntai harapan merah ungu. 

"Sitta, kamu jatuh cinta?" Purnama bertanya. Purnama berkata. sebuah kata tanya yang melonjat bersama partikel kuantum yang menyentuh raga untuk tersenyum. Bifurkasi jatuh cinta. hal terbodoh dan terhebat yang diciptakan sang maha kuasa. 

"Saya takut jatuh cinta lagi" Sitta berkata perlahan. seiring awan yang perlahan berganti dengan semburat langit jingga. semburat yang menyisakan tawa. menyisakan memori dan ketakutan akan harapan.

"Ini seperti teori kopi sita. kamu tau bahayanya, tapi karena kamu suka kamu akan tetap meneguknya. saya tau, itu berbahaya, tapi saya juga tau kamu tak akan takut merasakannya"

"Saya bukan takut jatuh cinta, purnama...hanya sedang memcoba kembali berharap, berharap akan manusia baru bernama harapan"

"Dan kamu jatuh cinta sama harapan itu?"
"Ya. mungkin saja. tapi saya takut hanya mencintai"
"Sitta...bukankah dunia indah dengan mencintai, dan selalu rusak karena tekanan untuk dicintai'

"Purnama...tapi kali ini aku mencintai harapan.."
"Itu lebih baik. daripada mencintai memori'

Sitta terdiam diantara partikel waktu. lalu lupa bahwa purnama hanya purnama. teman senja yang menciptakan dunia berwarna merah jambu.
Sitta berpikir diantara tekanan bifurkasi jatuh cinta. bersama semburat partikel berpayung teduh mentari senja.

Dan disenja itu dia tersenyum. berkata lirih dengan ragu yang menyusup perlahan diruang tak berdermaga.
"Saya jatuh cinta lagi?"

-Untuk manusia bernama harapan :)- Sitta

Menusuk dan Tersenyum

seharian ini puluhan bahkan ribuan detik terbuang
manusia berkata saya diam
manusia sibuk sendiri saya diam
tapi saya asik memperhatikan mereka
memperhatikan gerak tiap langkah yang bagai menari
kadang mereka saling tusuk tapi tersembunyi
kadang mereka saling menarik saling teriak
dan saya hanya diam

manusia manusia ingin menjadi ini diantara itu
menjadi itu diantara ini
saya diam saja

berpikir dan bertanya
untuk apa mereka?
saling membentur tapi tersenyum
saling tersenyum tapi membentur

aneh
tapi saya masih diam
D
I
A
M

kadang tak berkata itu menyenangkan
karena saya tak ingin tersenyum hari ini
tak ingin tertawa hari ini
tak ingin menusuk hari ini

saya tau dibalik tusukan dan manusia yang pura2 tertawa
ada seorang yang benar-benar TERTUSUK
tapi menapa dia pura-pura TERTAWA
ada juga orang yang balik menusuk padahal dia tak tertusuk
buat apa dia ikut-ikutan MENUSUK
tapi ada juga yang hanya tertawa
tertawa karena berhasil menusuk
tertawa karena berhasil menyakiti

ADA APA DENGAN INI?
Saya bingung
siapa yang harus TETRTAWA
SIAPA YANG HARUS MENANGIS?
manusia yang saya pikir menangis, DIA MALAH PURA-PURA TERTAWA

jadi
lebih baik diam saja
seperti saya
kadang..
diam itu lebih baik daripada berpura-pura


-jangan saling menusuk kalo yang dibutuhkan hanya tawa, dan jangan saling tertawa kalo sebenarnya ingin menyakiti-

Isyarat

Siapakah makhluk ini sesungguhnya?
Terkirim tuhan tanpa isyarat.
Atau memang dia tak perlu isyarat.

Siapakah makhluk ini sesungguhnya?
Terkirim tuhan tanpa tujuan.
Atau mungkin dia memang tanpa tujuan.

Siapakah makhluk ini sesungguhnya?
Terkirim tuhan untuk menghapus memori.
Atau hanya mencoba menghapusnya.

Dia..
Datang tanpa isyarat.
Datang tanpa syarat.

Siapakah makhluk ini sesungguhnya?
Bermain bersama waktu. Bermain bersama aku.
Siapakah makhluk ini sesungguhnya?
Mencuri kesendirianku.

Dia..
Pergi tanpa isyarat.
Pergi tanpa syarat.

Siapakah makhluk ini sesungguhnya?
Dtang dan pergi semaunya.
Datang dan pergi tanpa aturan.

Siapakah makhluk ini tuhan?

Bilang padanya.
Dia boleh datang.
Tapi tolong jangan pergi..

Tuesday, April 10, 2012

Mencintai.. Dicintai..

sudah lama saya tidak menulis
dan kemudian menyadari
saya juga sudah lama tidak mencintai

mungkin mencintai sama dengan menulis
sudah lama saya tidak menulis
sampai lupa bagaimana, menarikan jari jemari diatas tuts keyboard yang menjadi kering
mencintai juga begitu
sudah lama saya tidak mencintai
sampai lupa bagaimana, memulai bermain hati dengan hati-hati
saya juga sudah lama tidak merindu
tepatnya malas untuk merindu
mungkin lama kelamaan saya akan lupa bagaimana rasanya merindu 

saya lalu kembali menulis
merangkai kata
menarikan jemari diatas keyboard yg sudah agak basah akan keringat kecil dari sela-sela jari
saya lalu kembali mencintai
kembali berharap 
kembali tersenyum karena hal-hal kecil yang entahlah
tapi saya lupa sesuatu
sudah lama saya tidak dicintai
mungkin saya sudah lupa rasanya
rasanya digiring dan seiring
rasanya berlari dengan ikatan yang sebetulnya bukan itu hakikatnya
saya mungkin kembali merindukan
tapi bukan dirindukan
saya mungkin kembali mencintai
tapi bukan berarti dicintai
kalau kini saya kembali menulis
bukan berarti juga saya kembali ditulis

saya lebih suka apa?
me- atau di-
subjek atau objek
entahlah

kembali mengharapkan seseorang
bukan kembali diharapkan oleh seseorang

bukankah mencintai hanya akan dibunuh karena tuntutan untuk dicintai

yaaaa
biarkan saja begini
biarkan kembali menulis, agar tidak lupa rasanya
biarkan kembali mencintai seseorang, agar banyak kata terangkai kembali
biarkan kembali merindukan seseorang, agar kemudian menjadi alasan kita bergerak ke satu tempat
biarkan kembali mengharapkan seseorang, agar hidup berjalan ke depan

biarkan saja
tanpa perlu
dicintai
dirindukan
diharapkan

bukankah
"Allah selalu tahu, hanya menunggu"

ya menunggu

bukan ditunggu :D

Kabel Hitan dan Harapan

Saya tulis ini saat berada disebuah benda bergerak yang membawa saya menuju sebuah kota
di sebuahperjalanan memaafkan

Tentang si kabel hitam..

Saya suka mengamati kabel listrik berwarna hitam
mengamati dan mengikuti gerakannya
diantara saya yang dibawa bergerak oleh suatu benda yang tak punya jumlah roda pasti

tali panjang hitam itu menari dan mengajak saya bermain kejar-kejaran
tali hitam itu terasa amat dekat seakan saat saya mengulurkan jemari keluar
maka saya dapat menyentuhnya dan meminta dia berhenti menari

tali hitam yang masih menari itu mengingatkan saya pada nya
ternyata..
terbesit saya masih mengharapkannya jadi nyata
mata saya masih tertipu pada harapan
masih tertipu akan dia yang saya harapkan, ingin menrai bersama saya
masih tertipu akan dia yang saya rasa dekat dengan saya, meski jauh ternyata
masih tertipu akan dia yang saya harapkan mengajak saya kembali bermain dan bermimpi
dia..
harapan yang seakan dekat padahal amat sangat jauh

lalu?
haruskah saya mengulurkan tangan keluar jendela, mencoba menyentuh tali hitam itu, lalu saya yakin tak tersentuh, maka akan membuat saya luka
sama seperti diamanusia yang seakan terlihat dekat, 
tapi ternyata tak mungkin digapai
ya..
saya harus berdamai dengan kenyataan
kenyataan bahwa tali hitam itu sebenarnya jauh
dia juga tak sungguh sedang menari
tali hitam itu hanya diam
saya yang menari sendiri
ya..
kenyataan bahwa
saya memang sendiri

Saturday, June 2, 2012

Berbagi Suka


aneh..
kemudian malam ini memutuskan untuk menulis sesuatu yang tidak pernah ditulis sebelumnyakata-kata sarat makna hingga menyembunyikan makna bahkan jadi andalan kinisaya akan banyak atau mungkin sedikit bercerita tentang banyak hal tentang sayasemua awalnya karena seorang teman yang bertanya apa yang disuka dan tak disuka kemudian dia menebak bagaimana kita
"bisa begitu?"bisa mungkin..
maka sedikit bercerita tentang objek yang juga subjek tapi bukan kata keterangan pastinya
apa yang saya suka

baiklah



saya suka sekali Kopi, mari kita ulang kata-kata ini sebanyaknya kopi, kopi, kopi, kopi, kopi, coffee. ya saya suka sekali kopi."i love coffee and coffee love me" selalu percaya bahwa kopi juga suka sama saya.
banyak yang bilang kopi berbahaya tapi buat saya lebih berbahaya jika saya tidak ngopi.
saya suka proses membuatnya, merasakannya, meneguknya, dan jadi teman saya disaat tak ada yang bisa sekalipun. dia ada di pagi hari, siang hari, malam, lalu pagi lagi, dan selalu. Sampai dalam hati saya suka bertekad suatu saat akan saya buka tempat minum kopi yang sangat menyenangkan dan ajaib.







Lalu, saya suka Biru. suka sekali warna biru. Biru itu tenang seperti laut, Biru itu tak bertepi layaknya langit, Biru itu anugrah dari sebuah warna. 


Saya kemudian suka dengan momentum bernama Pagi. momentum tercepat dengan jutaan partikel ajaib yang minta diraih. saya suka pagi dengan matahari yang malu-malu. orang-orang yang berjalan cepat bahkan kadang harus suka lengkap dengan suara klakson mobil yang panik karena detik berlalu lebih cepat. saya suka pagi dengan rumput yang masih basah oleh hujan semalam. saya suka pagi meskipun tak ada sapaan dari manusia spesial karena pagi akan menjelma jadi spesial meski tanpa seorang manusia spesial.


Lalu saya suka Musik yang kemudian punya cerita. nada-nada yang mengalun kemudian seiring dengan gerakan lanhkah, degup jantung, aliran darah, tempat berkuasa dan banyak hal. beberapa yang saya suka, dari sekian banyak lagi yang saya suka.









itu hanya sebagian dari banyak sekali yang saya suka. saya dengar banyak dan cerna banyak dan suka banyak. tapi mereka saya suka. Selalu suka. banyak hal yang bisa jadi bahan saat kita mulai dengan musik. Musik apa yang kau dengar? maka lalu jadi panjang, pasti obrolannya.


Saya suka sekali buah jeruk sangat, Jeruk adalah buah yang sangat buah, dan bittersweet.


Saya suka menulis. suka sekali. suka baca juga pastinya. tapi suka menulis. suka sekali. menulis adalah bagian yang sangat menyenangkan. sama menyenangkannya dengan tertawa, dengan berlari, menyenangkan.


 Belle is noted for being the first Disney Princess to have brown hair and hazel-brown eyes. She is the only daughter of an aspiring inventor named Maurice. Though not very rebellious, Belle, a book-lover, is intelligent, stubborn and outspoken, and exhibits some traits offeminism throughout the film. In the first film Belle dreams of leaving her provincial village life and having adventures "in the great, wide somewhere", like the ones she reads about in her books.


 i cant describe that.. suka sekali!


Saya suka malam di Australia dengan banyak lampu, apalagi jika habis hujan, dan kita lihat dari dalam bis kota. itu indah. Tapi tak terlalu suka malam gelap. saya suka yang ini. jadi bukan malam yang lengkap, karena perlu pelengkap.

saya suka bercerita, tertawa, berlari, lompat, berbicara, dan banyak momentum yang saya suka.
Ada pasti yang tak saya suka, tapi saya ternyata suka berbagi yang saya suka dibanding yang tidak saya suka.

dan pastinya..
saya selalu suka jika ada yang baca semua tulisan yang saya rangkai.

ini tidak penting
tapi mungkin jadi menyenangkan
dan saya suka jika membuat orang lain senang.

suka tak suka disuka menyukai, aah, mari terjebak atas kosakata sarat makna.
dan saya suka tanda, dibanding
dan kalau tak penting, maka saya kembali mengutip kata-kata chairil
"bukan maksudku berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing"



Kisah #1


manusia bergerak dan berubah
ada yang datang ada yang baru saja pergi
atau sudah lama pergi dan belum kembali
atau menunggu untuk diraih


saya tak pernah merencanakannya

karena sudah ada yang merencanakannya
kadang saya ingin banyak yang tak boleh pergi cukup datang dan jangan pergi
ada banyak juga memang yang tak pergi


dulu saya pernah mengharapkan yang pergi itu kembali

tapi mungkin..itu harga mahal!
kini saya mengharapkan yang baru datang

dia yang saya rencanakan dan menunggu rencananya

kalau dia datang

jangan pergi..
saya sudah tak ingin yang pergi kembali

maka beri kan saya yang belum datang itu sungguh datang
ya ya ya.. berbelit belit
tapi ada satu pastinya yang tak datang tak pergi tak kembali dan tetap ada


itu saya
kadang diri kita sendiri memang teman yang paling sejati.

Friday, June 1, 2012

Why I Love Rain..


Saya tidak tahu mengapa saya menyukai hujan. Tidak tahu mengapa dari sekian banyak fenomena alam, harus hujan yang jadi favorit, bahkan nomor satu dalam daftar hal-hal favorit milik saya.

Kalau kata Shinchi di komik Detective Conan, "kadang kita tidak butuh alasan untuk menyukai atau membenci sesatu."

Atau, "what comes from heart, touched heart deep."

Mungkin saya simpel menyukai hujan karena pernah ada yang pernah memberikan saya momen di sebuah hujan; ada juga yang pernah membuat saya menangis ditengah hujan; ada yang pernah memberikan saya air hujan sebagai sebuah kado terindah--terbaik--sampai sejuah ini; ada yang pernah membuat saya menyadari bahwa hujan sama halnya seperti manusia - cepat datang, cepat pergi.

Saya tidak pernah tahu.

Sama ketika saya - atau banyak orang diluar sana - memilih untuk mencintai/menyayangi seseorang.

Ada sebuah novel, keluaran Gagas Media berjudul "Marrigeable" yang menulis begini: Sama kayak orang tua ke kita. Mereka tidak pernah bisa memilih anaknya mau seperti apa, yang mereka tahu cuma nerima. Dan apapun bentuknya, mereka bersyukur.

Dari dulu, kita selalu diajarkan untuk mencintai sesuatu tanpa alasan. Dari kecil. Saat kita mempunyai orang tua, kita tidak pernah punya alasan signifikan kenapa harus menyanyangi mereka, selain karena mereka memang mereka adalah orang tua kita.

Atau ketika seorang wanita berusaha menjaga mati-matian anak di dalam rahimnya, tanpa peduli, anak ini cacat/tidak, sempurna/tidak. They just love. A pure love.

Dan ketika ada orang yang bilang, mencintailah dengan matamu..... shoot you!

Kalau dari kecil kita sudah diajarkan untuk mencintai tidak dengan mata, kalau sekarang kita melakukan itu pada orang lain, tidak apa-apa, kan?

Equibilum


Setelah berlari cukup lama, akhirnya saya kembali di sini. Di titik nol. Equibilum. Ketika seluruh jiwa lelah diajak kabur-kaburan; dengan pekerjaan, dengan sekolah, dengan 'perbincangan' lewat dunia lain, dengan tidur.... ketika seluruh objek untuk lari dari kenyataan itu tidak bisa lagi mengalihkan saya dari kamu, ternyata saya hanya bisa tersenyum, tertawa.

Seluruhnya melebur dalam satu momen. Satu momen yang datang tanpa disengaja. Satu momen yang selalu saya syukuri keberadaannya. Satu momen yang indah untuk diingat, sakit untuk dikenang--sebuah transformik yang berbanding terbalik.

Karena, sejauh manapun saya berlari, kamu tidak kemana-mana. Kamu tetap berada di pikiran saya, di hati saya, di otak saya, di tempat yang sama. Tidak berjalan kemana-mana.

Sunday, May 13, 2012

Dia yang Tidak Boleh Disebut Namanya



Semua orang tahu, semua orang mengerti bahwa ketika kita mencintai seseorang akan ada dua hal yang kita terima dari mereka: bertepuk sebelah tangan atautidak bertepuk sebelah tangan. Merasakan cinta sendiri adalah hal paling harafiah dari seorang manusia.

Dan Cinta, dengan nama yang arti harafiahnya adalah cinta, malah membenci bahkan terkesan mengutuk arti kata cinta. Menurut Cinta, cinta adalah jenis kata yang membuat orang harus jatuh bangun hanya untuk merasakannya.

Dan bagi Cinta, cinta adalah......... Dia yang tidak boleh disebut namanya.

Cinta sendiri tidak mengerti, ia hanya mau belajar dari kesalahan bahwa cinta bukanlah lolipop, dari awal sampai akhir manis, lalu dibuang pada akhirnya. Menurut Cinta, cinta adalah hal yang sebaliknya: habis manis sepah dibuang. Sepah, sepet. Semuanya.

Cinta menyimpulkan hal ini bukan karena alasan yang sepogoh-pogoh ia lontarkan sendiri tanpa adanya observasi. Cinta sudah mengobservasi mengenai cinta itu. Rasanya, sakitnya, pedihnya, manisnya, bagusnya - semuanya seperti permen sugus.

Namun, ada satu hal yang tidak Cinta mengerti mengenai cinta. Satu hal krusial dan menimpa banyak orang: kita jatuh satu, mereka datang satu. Cinta bisa datang dan pergi sesukanya, itulah manusia, begitupula dengan cinta. Bersama dengan cinta yang datang dan pergi, perasaan yang sudah diobservasi oleh Cinta pun otomatis akan datang berulang-ulang seperti rekaan wilayah alur-mundur plot sebuah cerita.

Dan begitulah kenyataannya: Cinta tidak tahu ia sedang didatangi (kembali) oleh cinta, oleh dia yang tidak boleh disebut namanya, oleh.......................... cinta.

Mimpi



Semua orang punya mimpi. Semua orang punya sesuatu yang mereka jadikanpoint of life atau base line dari hidup mereka. Biasanya, mimpi awal mereka dimulai dari masa TK, dimana guru-guru bertanya disela waktu 3-jam-sekolah-yang-isinya-hanya-bermain-main-itu, 'mau jadi apa anak-anak?'


Dan jawaban terlumrah keluar dari bibir-bibir kecil mereka, 'dokter!' atau 'pilot!' atau 'presiden!'. Sesudahnya, semakin mereka beranjak besar, mereka mulai tahu bahwa itu adalah hal yang dinamakan cita-cita. Mereka mulai belajar soal passion, mereka mulai belajar soal mengayomi hidup.


Namun kenyataannya, semakin kita dewasa, sesaknya kehidupan urban membuat kita jadi kurang begitu memahami lagi arti kata passion. Yang penting uang datang, yang penting kejayaan kita nomor satu--dan kita mulai kurang memikirkan soal yang namanya nurani, hati, atau cinta.


Karena kenyatannya, banyak sekali remaja dewasa atau pra-remaja yang belum bisa memilah mana passion utama mereka. Yang masih bingung kalau ditanya, 'mau jadi apa kamu 5 tahun kedepan?'


Padahal, kenyataan terbesar saat ini adalah, passion atau minat atau bakat atau keinginan adalah hal penting ditengah sesaknya kehidupan urban yang ada. Banyak orang yang bertahan pada bidang hukum, mau sebanyak apapun hafalan didalamnya, karena memang mereka punya passion besar disana. Atau, banyak orang bertahan di bidang desain, menggali rongga-rongga turbelensi otak mereka demi mencari yang dinamakan kreatifitas--semua mereka jalani dengan baik, tanpa mengeluh, karena memang disitulah passion mereka.


Beruntung, saya berada di satu momentum, dimana saya bisa melihat orang-orang muda berusaha segigih mungkin meraih mimpinya. Dari mereka saya belajar untuk mencari, menggali, dan menapaki apa yang dinamakan mimpi.


Namun, setelah sekian lama berjalan, saya masih juga diliputi pertanyaan besar soal mimpi itu. Banyak kenapa, banyak ketakutan, banyak progresi realitas yang muncul disana. Namun, akhirnya saya bertahan, mencoba melepaskan satu-satu yang tidak penting, mempertahankan yang benar-benar saya inginkan.


Dunia yang benar-benar ingin saya geluti, tanpa harus bertanya soal benar atau salah.


Namun, hidup adalah yin dan yang. Ketika saya menemukan diri saya sudah menemukan mimpi, saya masih melihat orang muda diluar sana berjalan tanpa tahu mau membawa hidup mereka kemana. Yang ada hanyalah hari ini, dan besok perlu apa.


Mereka bersekolah, hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi mereka (baca: ijazah), tanpa mencari makanan utama mereka yaitu mimpi.


Dewi Lestari dalam Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh menjelaskan dengan cukup detail bagaimana seseorang berjalan dengan lingkungan, hanya menerima soal apa yang salah dan benar dalam lingkungannya, tanpa tahu apa keinginan pribadinya. Lewat seperempat abad, ia baru tahu apa mimpinya, apa passion nya, apa yang menjadi mimpinya.


Saya tidak mau, sungguh tidak mau kalau itu kejadian dalam diri kita sebagai remaja.


Saya sendiri tidak tahu bagaimana caranya mencari mimpi yang benar untuk hidup kalian kedepannya. Saya hanya bisa men-suggest untuk selalu melakukan obrolan dengan diri kalian. Biarkan kalian memanggil nama kalian dan mencari tahu sendiri apa mimpi kalian. Serta, sertakan Allah dalam pencarian itu.


Selamat mencari mimpimu!

Dialog


Aku menutup mataku. Gelap. Semuanya terasa begitu kelabu, bahkan matahari kalah dari gelap yang ada. Sesaat, nafas terhembus, bersamaan dengan lelah yang muncul ke permukaan. Ada apa ini? Mengapa begitu berat melepaskan perasaan yang dasarnya dari diri sendiri? Sudah bertahun lewat, apakah masih susah juga berdialog dengan diri sendiri?

"Jangan mencoba berdialog dengan orang lain kalau masih sukar berdialog dengan diri sendiri--"

Kemana perginya rasa? Kemana perginya mata? Kemana perginya nurani?

"Seseorang pernah berkata bahwa nurani tidak pernah pergi, serta tidak perlu dipertanyakan--betulkah?"

Angin berhembus pelan, tengkuk terasa dingin sesaat, sedetik hilang sudah. Sekarang dunia sudah seperti angin, memberi rasa dan merasa begitu cepatnya dan hanya dalam hitungan sepersekian detik. Masalahnya, ketika semua mulai hilang rasa, ketika semua mulai ditanya rasionalisasinya, dicari ke tepi mana jawabannya?

".....diri sendiri? Mencari ke diri sendiri?"





Angin kembali bertiup. Sepertinya angin sedang dalam mood ingin bermain. Tapi seperti awal tadi, rasanya hanya sebentar... angin mendadak kembali pergi lagi.

................................

Dan aku kembali menutup mataku. Berusaha mencari terang ditengah gelap yang menusuk karena hanya dengan itulah aku bisa bertahan selama gelap masih mendominasi.

Friday, May 4, 2012

Where life will take me?


Where life will take me? Sesuatu yang selalu saya pertanyakan, setiap kali saya mulai jengah dengan segala macam tugas sekolah. Saya kangen menulis, kangen bisa mengerjakan sesuatu yang membuat saya rela tidak tidur tanpa harus mengeluh sebenarnya.

Kadangkala, saya bertanya-tanya, kemana sebenarnya saya harus pergi dan apa yang harus saya putuskan? Semakin bertambah dewasa, ada banyak pikiran melanda otak saya, menjadi sebuah badai otak yang sesungguhnya sudah ada sejak lama, hanya tidak pernah saya selesaikan.

Dua hari lalu saya menonton film Midnight in Paris, dan sekarang mengulang film Morning Glory. Buat saya, film Midnight in Paris bukanlah film yang menceritakan cinta, dan saya berikan nilai 0 untuk plot cerita cintanya. Tapi, ketika membicarakan mengenai bagaimana film itu membawa kita kembali ke Paris masa 20an, menceritakan bagaimana Ernest Hemingway, Pablo Picasso, Salvador Dali, serta segudang nama penulis/seniman lainnya berdiri dan mengamati dunia lewat versi mereka. Bagaimana beratnya suara Hemingway, bagaimana tingginya Hemingway menilai dirinya sendiri.... Saya hanya bisa menelan ludah melihat itu semua.

Atau, bagaimana film Morning Glory membawa saya (kembali) pada satu momen dimana saya bertanya: 'sudah sejauh dan sekeras apa saya berusaha merealisasikan mimpi saya?' Sudah seperti Becky Fuller-kah saya berdiri pada kaki saya untuk berjuang mati-matian akan mimpi yang saya miliki? And Morning Glory slap me like hell when Becky's mom talked, 'When you had your dream at 8, it was amazing and proudly. When you still had the dream at 18, it was inspiring... but when you are at 28 and you still think about your dream, it fully embarrassing.'Saya tidak mau seperti itu.

Saya merasa banyak orang seumur saya sudah berdiri mati-matian untuk mengejar mimpinya. Tapi saya? Hanya di depan buku, mengerjakan segudang tugas yang sejujurnya ingin saya bakar mati. Saya suka ini semua, tapi saya lebih suka membuat cerita dan mengatur plot, atau mewawancara orang, atau meliput sebuah acara. It's why I dream about work on magazine, every single day since I was 13.
Kapan waktunya saya? Kemana hidup akan membawa saya? Dimana semua orang sedang bersusah payah membawa mimpinya, saya malah masih duduk dan berkutat dengan konsep berbagai tugas........ 

Monday, April 23, 2012

Patah Hati


Patah hati itu sebenernya gak selamanya buruk. Dan gak selamanya patah hati itu diidentikan sama orang yang entah cintanya gak terbalas atau apapun yang berkaitan sama cinta.

Patah hati, gue memandangnya sebagai sesuatu yang universal. Rasa kekecewaan yang mendalam terhadap suatu hal. Dan selama SMA, gue sering patah hati.

Terutama, patah hati gara-gara ekspektasi gue terhadap sesuatu gak tercapai karena gue orangnya memang terlampau perfeksionis dan mungkin ini bikin orang sebel karena gue orangnya selalu menargetkan kesempurnaan dalam setiap pekerjaan.

Sebenernya gue sendiri sadar, kalo yang membuat gue demikian itu gue sendiri. Gue memang selalu berekspektasi tinggi terhadap suatu hal terutama masalah akademis dan apa yang menjadi tujuan hidup gue. Sekali ekspektasi gue gak kesampean, gue bisa down banget namun gak lama kemudian bangkit lagi dan terus berusaha sampe gue ngedapetin apa yang gue mau. Itu gara-gara patah hati.

SMA mengajarkan gue banyak hal, terutama karena gue sering patah hati.
Gara-gara patah hati, gue jadi pekerja keras.
Gara-gara patah hati, gue jadi pantang menyerah.
Gara-gara patah hati, gue bersyukur ada orang-orang tertentu yang peduli dan menemani gue dalam menghadapi segala permasalahan.
Gara-gara patah hati, gue jadi orang yang jauh lebih sabar ketimbang dulu.
Gara-gara patah hati, gue belajar jadi orang yang realistis. Gak selamanya yang kita mau bisa kita dapetin. Mau udah berusaha dan berdoa pun, kalo emang Allah gak ngehendakin kita gak bakal dapetin.

Dari semua hal yang bikin gue patah hati, tanpa sadar gue menyapu kepingan yang ada dan mengumpulkannya untuk jadi orang yang lebih baik lagi.
Biar awalnya menyebalkan, tapi sekarang gue bersyukur selama SMA banyak mengalami ‘patah hati’ toh diantara banyak patah hati tersebut masih ada orang-orang tertentu yang membuat gue selalu bersemangat untuk bangkit dan ngumpulin kepingan yang patah. Ibaratnya, teman-teman dan kebahagiaan selama SMA itu lem yang menyambung hati biar utuh lagi walaupun sering patah <3

Mungkin ini post paling crappy yang pernah gue tulis di Blog ini. Tapi daripada tulisan ini tersimpan jadi sampah di otak gue mending ditulis.

Dari orang yang sering patah hati,
Rianda

Wednesday, April 18, 2012

Sebuah catatan kecil


Bahasa yang saya sampaikan adalah bahasa saya.
saya kadang susah berkata-kata ketika ada ruang beroksigen yang memaksa untuk berkata sambil bernafas. melakukan dua hal yang sama....
Bahasa ini terlalu tersirat atau jangan-jangan terlalu tersurat. tapi bukan itu intinya

ini hanya tentang sebuah chaos. sebuah ruangan yang kadang hanya berisi titik. tahukah kamu, bukan seperti itu caranya.

Membentukan kalimat utuh tidak sekedar kamu menaruh titik diakhir kalimaat, terkadang manusia lain disekeliling kamu dan saya, mengharapkan tanda koma, agar kita bisa melanjutkan, agar tak ada tanda seru diakhir.

Ini hanya sesimpel itu. tapii hati-hati, karena ketidakteraturan akan muncul, ya.... akan ada waktunya fraktal mengambil alih untuk ikut bermain dalam loncatan kuantum ini.

Hidup terkadang bukan selalu keharusan, tapi juga pilihan.
jadi, jika selalu berpikir 1+1 selalu berhasil 2, maka ternyata ada orang lain disekeliling kamu dan saya, yang meminta hasil 3 atau bahkan 100. lalu bagaimana?
itulah mengapa jangan kasih titik dibalakangnya, tapi berilah sebuah koma.

Hati-hati dengan loncatan kuantum manusia-manusia yang sudah jenuh akan sistem bifurkasi berpartikel tinggi, manusia-manusia yang benci didikte. manusia-manusia yang memilih menceburkan diri kedalam jurang dan bebas, daripada berada dalam kebun mawar yang penuh aturan-aturan berwarna abu-abu.

Pesan ini tidak ada objeknya, saya berbicara pada siapa saja. bahkan pada titisan langit berwarna merah jingga.
tapi untuk seseorang, ini ada pesannya. saya hanya mencoba merangkum sejenak. apa yang didapat. dari sebuah titik yang diberi, yang membuat saya mendengar tanda seru didapati dari manusia lain disebelah saya. tapi saya diam. saya sudah bilang, ini bahasa saya, bukan disana, disebuah ruang beroksigen yang menghimpit kami untuk berkata sambil bernafas.

Manusia seperti mereka tahu, bahwa apa yang berbahaya dan apa yang tidak. tapii tidak begitu caranya. kita mungkin tahu dan hafal betul peta kota jakarta, tapii ketika kita dipaksa bahkan didikte untuk mengikuti peta yang ada, maka nanti yang timbul adalah sebuah phase sapce, akan banyak fraktal berpartikel kelabu. ini yang haruus kita hindari

"Genggam tanganku tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin SEIRING bukan DIGIRING" itu kuncinya. biarkan kita sendiri yang tahu dan kita sendiri yang menjalankannya, bersama-sama. kadang ada manusia yang tak ingin digiring, tapii biarkan seiring, agar senada. seirama. akan lebih indah..

Saya hanya manusia kecil yang sekarang sedang sibuk berkata pada catatan kecil. tapii setiap kata yang tetulis berharap tidak terbuang sia-sia hanya karena kesoktahuan saya. saya hanya mencoba mencatat apa yang ada tentang hal kecil yang memiliki kekuatan atom berwarna merah muda.

hmh
bukankah hidup terkadang adalah pilihan? bukan keharusan, jadi jangan biarkan titik mengundang tanda seru yang membuat kamu akan terlonjak! tapi taruh sedikit koma diakhirnya, agar ada kata-kata manis yang akan terus dilanjutkan,

tidak ada unsur pesan bahkan dalam tulisan yang terlalu tersirat ini, atau ini hanya sebuah catatan yang amat tersurat, atau tak berarti yang hanya akan membuang energi untuk ditulis bahkan dibaca....
entahlah...
saya hanya mencoba berkata... karena hanya ini yang punya, hanya ini yang saya bisa. manusia kecil dengan bahasa kata-kata.

"Kesedihan tidak pernah membiarkan kebahagiaan datang sendirian ke hidup manusia, padahal seringkali kita tak punya cukup persediaan untuk menjamunya bersamaan.
Begitu banyak rasa sakit dan kehilangan, padahal hidup terlalu singkat untuk semua rasa itu.
Beruntunglah manusia yang tahu apa yang mereka cari, dan diberi cukup waktu untuk mencari.
Karena ada manusia yang tak punya cukup waktu untuk itu, bahkan untuk sekedar mencari tahu apa yang mereka cari.
Hingga pada akhirnya, cuma ada dua hal besar dalam hidup ini.
Kehilangan dan Harapan"

terimakasih untuk sebuah pembelajaran :)

Friday, April 13, 2012

Catatan merah jingga ungu kelabu


"Bukan maksudku berbagi nasib....nasib adalah kesunyian masing-masing"

Sudah lama tak berbagi...
Terlalu banyak kata terpendam, tersembunyi dibalik senyum manis yang terpaksa terpasang. Hanya untuk meramaikan langit. agar langit tak selamanya kelabu. untuk meramaikan langit, dengan semburat merah jingga bersama senyum berwarna ungu.

Baru kemarin hujan turun. butirannya selembut memori berwarna kelabu.
Hari-hari ini ada harapan yang minta diraih. butirannya berdatangan bak pelangi berwarna merah jingga.

Kemarin dan hari ini saya masih mematung tanpa payung...
merasakan butiran hitam lembut...
hanya diam
memandangi memori. melenyapkan harapan...

Ada yang bilang hidup dibiarkan untuk berbagi...
untuk apa?
bukankah nasib adalah kesunyian masing-masing?
kalau saya bisa berjalan dibawah langit berwarna merah jingga..
untuk apa saya kembali mengharapakan manusia berwarna ungu yang menciptakan kelabu

Tapi ruangan dalam hati punya kunci
manusia butuh manusia lain untuk berbagi..
kemudia bertanya?
saya butuh manusia lainkah?
saya sudah punya dalam masa lampau. dalam tubuh berwujud memori
dalam hitungan momentum-momentum waktu berwujud lampau
dalam partikel-partikel bernama masa lalu
dan semuanya tergambar dalam langit bernama memori berwarna ungu kelabu.
mengapa ungu?
mengapa kelabu?
Kenangan akan yang lalu berwarna ungu...
Kenyataan akan kehilanganlah yang berwarna kelabu...

Baru saja...
ada sebuah partikel berwarna merah jingga datang
partikel bernama harapan
sentuhan lembut yang membuat saya berpikir akan hari esok
lalu melihat langit
langit saya sudah merah jingga?
haruskah saya bermain kembali dengan harapan?
harapan bersama partikel berwujud manusia sekarang
haruskah kembali berharap akan momentum bernama masa datang?
momentum yang mungkin akan kembali berwarna kelabu...

saya bingung
saya lelah
saya terjebak dalam momentum waktu yang mempunyai tenaga bifurkasi tinggi akan hal bernama jatuh cinta..

ahh...
saya kembali meneguk secangkir kopi panas berwarna merah marun

harapan? dan memori?
Sekarang ada karena yang lalu juga ada
Dan yang datang akan ada karena sekarang juga ada

lalu?
-saya ragu ada yang mau berbagi nasib bersama saya kembali. Tidak juga Memori ataupun Harapan.-

"Bukan maksudku berbagi nasib...nasib adalah kesunyian masing-masing- (Chairil Anwar

Thursday, April 12, 2012

Cerita senja


Sitta mematung diantara senja merah ungu. Langit diatasnya terasa hanya sejengkal, dirinya yang putih kelabu seakan menyatu dengan senja ungu, lalu menari diantara menara cahaya berbintang jingga. Langit hanya sejengkal di atas kepalanya. diatas harapan yang memutar bersama rangkaian memori abu-abu. 

"Kalau kamu disuruh memilih, kamu pilih harapan? atau memori?" dirinya bertanya pada sesosok purnama disampingnya. hanya berbatas rangkaian berpartikel berkulit asa. 

"Saya pilih harapan" purnama berkata seiring bias senja berpayung merah jingga 

"Saya takut berharap"
"Kenapa Sitta? Karena takut akan terjatuh?"

Sitta kembali mematung diantara bias senja berlilitan awan kelabu. Jatuh. dia sudah pernah terjatuh. duluu. berasama memori yang pernah terbentuk lewat sejuntai harapan merah ungu. 

"Sitta, kamu jatuh cinta?" Purnama bertanya. Purnama berkata. sebuah kata tanya yang melonjat bersama partikel kuantum yang menyentuh raga untuk tersenyum. Bifurkasi jatuh cinta. hal terbodoh dan terhebat yang diciptakan sang maha kuasa. 

"Saya takut jatuh cinta lagi" Sitta berkata perlahan. seiring awan yang perlahan berganti dengan semburat langit jingga. semburat yang menyisakan tawa. menyisakan memori dan ketakutan akan harapan.

"Ini seperti teori kopi sita. kamu tau bahayanya, tapi karena kamu suka kamu akan tetap meneguknya. saya tau, itu berbahaya, tapi saya juga tau kamu tak akan takut merasakannya"

"Saya bukan takut jatuh cinta, purnama...hanya sedang memcoba kembali berharap, berharap akan manusia baru bernama harapan"

"Dan kamu jatuh cinta sama harapan itu?"
"Ya. mungkin saja. tapi saya takut hanya mencintai"
"Sitta...bukankah dunia indah dengan mencintai, dan selalu rusak karena tekanan untuk dicintai'

"Purnama...tapi kali ini aku mencintai harapan.."
"Itu lebih baik. daripada mencintai memori'

Sitta terdiam diantara partikel waktu. lalu lupa bahwa purnama hanya purnama. teman senja yang menciptakan dunia berwarna merah jambu.
Sitta berpikir diantara tekanan bifurkasi jatuh cinta. bersama semburat partikel berpayung teduh mentari senja.

Dan disenja itu dia tersenyum. berkata lirih dengan ragu yang menyusup perlahan diruang tak berdermaga.
"Saya jatuh cinta lagi?"

-Untuk manusia bernama harapan :)- Sitta

Menusuk dan Tersenyum


seharian ini puluhan bahkan ribuan detik terbuang
manusia berkata saya diam
manusia sibuk sendiri saya diam
tapi saya asik memperhatikan mereka
memperhatikan gerak tiap langkah yang bagai menari
kadang mereka saling tusuk tapi tersembunyi
kadang mereka saling menarik saling teriak
dan saya hanya diam

manusia manusia ingin menjadi ini diantara itu
menjadi itu diantara ini
saya diam saja

berpikir dan bertanya
untuk apa mereka?
saling membentur tapi tersenyum
saling tersenyum tapi membentur

aneh
tapi saya masih diam
D
I
A
M

kadang tak berkata itu menyenangkan
karena saya tak ingin tersenyum hari ini
tak ingin tertawa hari ini
tak ingin menusuk hari ini

saya tau dibalik tusukan dan manusia yang pura2 tertawa
ada seorang yang benar-benar TERTUSUK
tapi menapa dia pura-pura TERTAWA
ada juga orang yang balik menusuk padahal dia tak tertusuk
buat apa dia ikut-ikutan MENUSUK
tapi ada juga yang hanya tertawa
tertawa karena berhasil menusuk
tertawa karena berhasil menyakiti

ADA APA DENGAN INI?
Saya bingung
siapa yang harus TETRTAWA
SIAPA YANG HARUS MENANGIS?
manusia yang saya pikir menangis, DIA MALAH PURA-PURA TERTAWA

jadi
lebih baik diam saja
seperti saya
kadang..
diam itu lebih baik daripada berpura-pura


-jangan saling menusuk kalo yang dibutuhkan hanya tawa, dan jangan saling tertawa kalo sebenarnya ingin menyakiti-

Isyarat


Siapakah makhluk ini sesungguhnya?
Terkirim tuhan tanpa isyarat.
Atau memang dia tak perlu isyarat.

Siapakah makhluk ini sesungguhnya?
Terkirim tuhan tanpa tujuan.
Atau mungkin dia memang tanpa tujuan.

Siapakah makhluk ini sesungguhnya?
Terkirim tuhan untuk menghapus memori.
Atau hanya mencoba menghapusnya.

Dia..
Datang tanpa isyarat.
Datang tanpa syarat.

Siapakah makhluk ini sesungguhnya?
Bermain bersama waktu. Bermain bersama aku.
Siapakah makhluk ini sesungguhnya?
Mencuri kesendirianku.

Dia..
Pergi tanpa isyarat.
Pergi tanpa syarat.

Siapakah makhluk ini sesungguhnya?
Dtang dan pergi semaunya.
Datang dan pergi tanpa aturan.

Siapakah makhluk ini tuhan?

Bilang padanya.
Dia boleh datang.
Tapi tolong jangan pergi..

Tuesday, April 10, 2012

Mencintai.. Dicintai..


sudah lama saya tidak menulis
dan kemudian menyadari
saya juga sudah lama tidak mencintai

mungkin mencintai sama dengan menulis
sudah lama saya tidak menulis
sampai lupa bagaimana, menarikan jari jemari diatas tuts keyboard yang menjadi kering
mencintai juga begitu
sudah lama saya tidak mencintai
sampai lupa bagaimana, memulai bermain hati dengan hati-hati
saya juga sudah lama tidak merindu
tepatnya malas untuk merindu
mungkin lama kelamaan saya akan lupa bagaimana rasanya merindu 

saya lalu kembali menulis
merangkai kata
menarikan jemari diatas keyboard yg sudah agak basah akan keringat kecil dari sela-sela jari
saya lalu kembali mencintai
kembali berharap 
kembali tersenyum karena hal-hal kecil yang entahlah
tapi saya lupa sesuatu
sudah lama saya tidak dicintai
mungkin saya sudah lupa rasanya
rasanya digiring dan seiring
rasanya berlari dengan ikatan yang sebetulnya bukan itu hakikatnya
saya mungkin kembali merindukan
tapi bukan dirindukan
saya mungkin kembali mencintai
tapi bukan berarti dicintai
kalau kini saya kembali menulis
bukan berarti juga saya kembali ditulis

saya lebih suka apa?
me- atau di-
subjek atau objek
entahlah

kembali mengharapkan seseorang
bukan kembali diharapkan oleh seseorang

bukankah mencintai hanya akan dibunuh karena tuntutan untuk dicintai

yaaaa
biarkan saja begini
biarkan kembali menulis, agar tidak lupa rasanya
biarkan kembali mencintai seseorang, agar banyak kata terangkai kembali
biarkan kembali merindukan seseorang, agar kemudian menjadi alasan kita bergerak ke satu tempat
biarkan kembali mengharapkan seseorang, agar hidup berjalan ke depan

biarkan saja
tanpa perlu
dicintai
dirindukan
diharapkan

bukankah
"Allah selalu tahu, hanya menunggu"

ya menunggu

bukan ditunggu :D

Kabel Hitan dan Harapan


Saya tulis ini saat berada disebuah benda bergerak yang membawa saya menuju sebuah kota
di sebuahperjalanan memaafkan

Tentang si kabel hitam..

Saya suka mengamati kabel listrik berwarna hitam
mengamati dan mengikuti gerakannya
diantara saya yang dibawa bergerak oleh suatu benda yang tak punya jumlah roda pasti

tali panjang hitam itu menari dan mengajak saya bermain kejar-kejaran
tali hitam itu terasa amat dekat seakan saat saya mengulurkan jemari keluar
maka saya dapat menyentuhnya dan meminta dia berhenti menari

tali hitam yang masih menari itu mengingatkan saya pada nya
ternyata..
terbesit saya masih mengharapkannya jadi nyata
mata saya masih tertipu pada harapan
masih tertipu akan dia yang saya harapkan, ingin menrai bersama saya
masih tertipu akan dia yang saya rasa dekat dengan saya, meski jauh ternyata
masih tertipu akan dia yang saya harapkan mengajak saya kembali bermain dan bermimpi
dia..
harapan yang seakan dekat padahal amat sangat jauh

lalu?
haruskah saya mengulurkan tangan keluar jendela, mencoba menyentuh tali hitam itu, lalu saya yakin tak tersentuh, maka akan membuat saya luka
sama seperti diamanusia yang seakan terlihat dekat, 
tapi ternyata tak mungkin digapai
ya..
saya harus berdamai dengan kenyataan
kenyataan bahwa tali hitam itu sebenarnya jauh
dia juga tak sungguh sedang menari
tali hitam itu hanya diam
saya yang menari sendiri
ya..
kenyataan bahwa
saya memang sendiri