RSS
Write some words about you and your blog here

Pages

Friday, May 4, 2012

Where life will take me?

Where life will take me? Sesuatu yang selalu saya pertanyakan, setiap kali saya mulai jengah dengan segala macam tugas sekolah. Saya kangen menulis, kangen bisa mengerjakan sesuatu yang membuat saya rela tidak tidur tanpa harus mengeluh sebenarnya.

Kadangkala, saya bertanya-tanya, kemana sebenarnya saya harus pergi dan apa yang harus saya putuskan? Semakin bertambah dewasa, ada banyak pikiran melanda otak saya, menjadi sebuah badai otak yang sesungguhnya sudah ada sejak lama, hanya tidak pernah saya selesaikan.

Dua hari lalu saya menonton film Midnight in Paris, dan sekarang mengulang film Morning Glory. Buat saya, film Midnight in Paris bukanlah film yang menceritakan cinta, dan saya berikan nilai 0 untuk plot cerita cintanya. Tapi, ketika membicarakan mengenai bagaimana film itu membawa kita kembali ke Paris masa 20an, menceritakan bagaimana Ernest Hemingway, Pablo Picasso, Salvador Dali, serta segudang nama penulis/seniman lainnya berdiri dan mengamati dunia lewat versi mereka. Bagaimana beratnya suara Hemingway, bagaimana tingginya Hemingway menilai dirinya sendiri.... Saya hanya bisa menelan ludah melihat itu semua.

Atau, bagaimana film Morning Glory membawa saya (kembali) pada satu momen dimana saya bertanya: 'sudah sejauh dan sekeras apa saya berusaha merealisasikan mimpi saya?' Sudah seperti Becky Fuller-kah saya berdiri pada kaki saya untuk berjuang mati-matian akan mimpi yang saya miliki? And Morning Glory slap me like hell when Becky's mom talked, 'When you had your dream at 8, it was amazing and proudly. When you still had the dream at 18, it was inspiring... but when you are at 28 and you still think about your dream, it fully embarrassing.'Saya tidak mau seperti itu.

Saya merasa banyak orang seumur saya sudah berdiri mati-matian untuk mengejar mimpinya. Tapi saya? Hanya di depan buku, mengerjakan segudang tugas yang sejujurnya ingin saya bakar mati. Saya suka ini semua, tapi saya lebih suka membuat cerita dan mengatur plot, atau mewawancara orang, atau meliput sebuah acara. It's why I dream about work on magazine, every single day since I was 13.
Kapan waktunya saya? Kemana hidup akan membawa saya? Dimana semua orang sedang bersusah payah membawa mimpinya, saya malah masih duduk dan berkutat dengan konsep berbagai tugas........ 

0 comments:

Post a Comment

Friday, May 4, 2012

Where life will take me?


Where life will take me? Sesuatu yang selalu saya pertanyakan, setiap kali saya mulai jengah dengan segala macam tugas sekolah. Saya kangen menulis, kangen bisa mengerjakan sesuatu yang membuat saya rela tidak tidur tanpa harus mengeluh sebenarnya.

Kadangkala, saya bertanya-tanya, kemana sebenarnya saya harus pergi dan apa yang harus saya putuskan? Semakin bertambah dewasa, ada banyak pikiran melanda otak saya, menjadi sebuah badai otak yang sesungguhnya sudah ada sejak lama, hanya tidak pernah saya selesaikan.

Dua hari lalu saya menonton film Midnight in Paris, dan sekarang mengulang film Morning Glory. Buat saya, film Midnight in Paris bukanlah film yang menceritakan cinta, dan saya berikan nilai 0 untuk plot cerita cintanya. Tapi, ketika membicarakan mengenai bagaimana film itu membawa kita kembali ke Paris masa 20an, menceritakan bagaimana Ernest Hemingway, Pablo Picasso, Salvador Dali, serta segudang nama penulis/seniman lainnya berdiri dan mengamati dunia lewat versi mereka. Bagaimana beratnya suara Hemingway, bagaimana tingginya Hemingway menilai dirinya sendiri.... Saya hanya bisa menelan ludah melihat itu semua.

Atau, bagaimana film Morning Glory membawa saya (kembali) pada satu momen dimana saya bertanya: 'sudah sejauh dan sekeras apa saya berusaha merealisasikan mimpi saya?' Sudah seperti Becky Fuller-kah saya berdiri pada kaki saya untuk berjuang mati-matian akan mimpi yang saya miliki? And Morning Glory slap me like hell when Becky's mom talked, 'When you had your dream at 8, it was amazing and proudly. When you still had the dream at 18, it was inspiring... but when you are at 28 and you still think about your dream, it fully embarrassing.'Saya tidak mau seperti itu.

Saya merasa banyak orang seumur saya sudah berdiri mati-matian untuk mengejar mimpinya. Tapi saya? Hanya di depan buku, mengerjakan segudang tugas yang sejujurnya ingin saya bakar mati. Saya suka ini semua, tapi saya lebih suka membuat cerita dan mengatur plot, atau mewawancara orang, atau meliput sebuah acara. It's why I dream about work on magazine, every single day since I was 13.
Kapan waktunya saya? Kemana hidup akan membawa saya? Dimana semua orang sedang bersusah payah membawa mimpinya, saya malah masih duduk dan berkutat dengan konsep berbagai tugas........ 

0 comments:

Post a Comment