RSS
Write some words about you and your blog here

Pages

Sunday, May 13, 2012

Dialog

Aku menutup mataku. Gelap. Semuanya terasa begitu kelabu, bahkan matahari kalah dari gelap yang ada. Sesaat, nafas terhembus, bersamaan dengan lelah yang muncul ke permukaan. Ada apa ini? Mengapa begitu berat melepaskan perasaan yang dasarnya dari diri sendiri? Sudah bertahun lewat, apakah masih susah juga berdialog dengan diri sendiri?

"Jangan mencoba berdialog dengan orang lain kalau masih sukar berdialog dengan diri sendiri--"

Kemana perginya rasa? Kemana perginya mata? Kemana perginya nurani?

"Seseorang pernah berkata bahwa nurani tidak pernah pergi, serta tidak perlu dipertanyakan--betulkah?"

Angin berhembus pelan, tengkuk terasa dingin sesaat, sedetik hilang sudah. Sekarang dunia sudah seperti angin, memberi rasa dan merasa begitu cepatnya dan hanya dalam hitungan sepersekian detik. Masalahnya, ketika semua mulai hilang rasa, ketika semua mulai ditanya rasionalisasinya, dicari ke tepi mana jawabannya?

".....diri sendiri? Mencari ke diri sendiri?"





Angin kembali bertiup. Sepertinya angin sedang dalam mood ingin bermain. Tapi seperti awal tadi, rasanya hanya sebentar... angin mendadak kembali pergi lagi.

................................

Dan aku kembali menutup mataku. Berusaha mencari terang ditengah gelap yang menusuk karena hanya dengan itulah aku bisa bertahan selama gelap masih mendominasi.

0 comments:

Post a Comment

Sunday, May 13, 2012

Dialog


Aku menutup mataku. Gelap. Semuanya terasa begitu kelabu, bahkan matahari kalah dari gelap yang ada. Sesaat, nafas terhembus, bersamaan dengan lelah yang muncul ke permukaan. Ada apa ini? Mengapa begitu berat melepaskan perasaan yang dasarnya dari diri sendiri? Sudah bertahun lewat, apakah masih susah juga berdialog dengan diri sendiri?

"Jangan mencoba berdialog dengan orang lain kalau masih sukar berdialog dengan diri sendiri--"

Kemana perginya rasa? Kemana perginya mata? Kemana perginya nurani?

"Seseorang pernah berkata bahwa nurani tidak pernah pergi, serta tidak perlu dipertanyakan--betulkah?"

Angin berhembus pelan, tengkuk terasa dingin sesaat, sedetik hilang sudah. Sekarang dunia sudah seperti angin, memberi rasa dan merasa begitu cepatnya dan hanya dalam hitungan sepersekian detik. Masalahnya, ketika semua mulai hilang rasa, ketika semua mulai ditanya rasionalisasinya, dicari ke tepi mana jawabannya?

".....diri sendiri? Mencari ke diri sendiri?"





Angin kembali bertiup. Sepertinya angin sedang dalam mood ingin bermain. Tapi seperti awal tadi, rasanya hanya sebentar... angin mendadak kembali pergi lagi.

................................

Dan aku kembali menutup mataku. Berusaha mencari terang ditengah gelap yang menusuk karena hanya dengan itulah aku bisa bertahan selama gelap masih mendominasi.

0 comments:

Post a Comment