skip to main |
skip to sidebar
Semua orang punya mimpi. Semua orang punya sesuatu yang mereka jadikanpoint of life atau base line dari hidup mereka. Biasanya, mimpi awal mereka dimulai dari masa TK, dimana guru-guru bertanya disela waktu 3-jam-sekolah-yang-isinya-hanya-bermain-main-itu, 'mau jadi apa anak-anak?'
Dan jawaban terlumrah keluar dari bibir-bibir kecil mereka, 'dokter!' atau 'pilot!' atau 'presiden!'. Sesudahnya, semakin mereka beranjak besar, mereka mulai tahu bahwa itu adalah hal yang dinamakan cita-cita. Mereka mulai belajar soal passion, mereka mulai belajar soal mengayomi hidup.
Namun kenyataannya, semakin kita dewasa, sesaknya kehidupan urban membuat kita jadi kurang begitu memahami lagi arti kata passion. Yang penting uang datang, yang penting kejayaan kita nomor satu--dan kita mulai kurang memikirkan soal yang namanya nurani, hati, atau cinta.
Karena kenyatannya, banyak sekali remaja dewasa atau pra-remaja yang belum bisa memilah mana passion utama mereka. Yang masih bingung kalau ditanya, 'mau jadi apa kamu 5 tahun kedepan?'
Padahal, kenyataan terbesar saat ini adalah, passion atau minat atau bakat atau keinginan adalah hal penting ditengah sesaknya kehidupan urban yang ada. Banyak orang yang bertahan pada bidang hukum, mau sebanyak apapun hafalan didalamnya, karena memang mereka punya passion besar disana. Atau, banyak orang bertahan di bidang desain, menggali rongga-rongga turbelensi otak mereka demi mencari yang dinamakan kreatifitas--semua mereka jalani dengan baik, tanpa mengeluh, karena memang disitulah passion mereka.
Beruntung, saya berada di satu momentum, dimana saya bisa melihat orang-orang muda berusaha segigih mungkin meraih mimpinya. Dari mereka saya belajar untuk mencari, menggali, dan menapaki apa yang dinamakan mimpi.
Namun, setelah sekian lama berjalan, saya masih juga diliputi pertanyaan besar soal mimpi itu. Banyak kenapa, banyak ketakutan, banyak progresi realitas yang muncul disana. Namun, akhirnya saya bertahan, mencoba melepaskan satu-satu yang tidak penting, mempertahankan yang benar-benar saya inginkan.
Dunia yang benar-benar ingin saya geluti, tanpa harus bertanya soal benar atau salah.
Namun, hidup adalah yin dan yang. Ketika saya menemukan diri saya sudah menemukan mimpi, saya masih melihat orang muda diluar sana berjalan tanpa tahu mau membawa hidup mereka kemana. Yang ada hanyalah hari ini, dan besok perlu apa.
Mereka bersekolah, hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi mereka (baca: ijazah), tanpa mencari makanan utama mereka yaitu mimpi.
Dewi Lestari dalam Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh menjelaskan dengan cukup detail bagaimana seseorang berjalan dengan lingkungan, hanya menerima soal apa yang salah dan benar dalam lingkungannya, tanpa tahu apa keinginan pribadinya. Lewat seperempat abad, ia baru tahu apa mimpinya, apa passion nya, apa yang menjadi mimpinya.
Saya tidak mau, sungguh tidak mau kalau itu kejadian dalam diri kita sebagai remaja.
Saya sendiri tidak tahu bagaimana caranya mencari mimpi yang benar untuk hidup kalian kedepannya. Saya hanya bisa men-suggest untuk selalu melakukan obrolan dengan diri kalian. Biarkan kalian memanggil nama kalian dan mencari tahu sendiri apa mimpi kalian. Serta, sertakan Allah dalam pencarian itu.
Selamat mencari mimpimu!
Semua orang punya mimpi. Semua orang punya sesuatu yang mereka jadikanpoint of life atau base line dari hidup mereka. Biasanya, mimpi awal mereka dimulai dari masa TK, dimana guru-guru bertanya disela waktu 3-jam-sekolah-yang-isinya-hanya-bermain-main-itu, 'mau jadi apa anak-anak?'
Dan jawaban terlumrah keluar dari bibir-bibir kecil mereka, 'dokter!' atau 'pilot!' atau 'presiden!'. Sesudahnya, semakin mereka beranjak besar, mereka mulai tahu bahwa itu adalah hal yang dinamakan cita-cita. Mereka mulai belajar soal passion, mereka mulai belajar soal mengayomi hidup.
Namun kenyataannya, semakin kita dewasa, sesaknya kehidupan urban membuat kita jadi kurang begitu memahami lagi arti kata passion. Yang penting uang datang, yang penting kejayaan kita nomor satu--dan kita mulai kurang memikirkan soal yang namanya nurani, hati, atau cinta.
Karena kenyatannya, banyak sekali remaja dewasa atau pra-remaja yang belum bisa memilah mana passion utama mereka. Yang masih bingung kalau ditanya, 'mau jadi apa kamu 5 tahun kedepan?'
Padahal, kenyataan terbesar saat ini adalah, passion atau minat atau bakat atau keinginan adalah hal penting ditengah sesaknya kehidupan urban yang ada. Banyak orang yang bertahan pada bidang hukum, mau sebanyak apapun hafalan didalamnya, karena memang mereka punya passion besar disana. Atau, banyak orang bertahan di bidang desain, menggali rongga-rongga turbelensi otak mereka demi mencari yang dinamakan kreatifitas--semua mereka jalani dengan baik, tanpa mengeluh, karena memang disitulah passion mereka.
Beruntung, saya berada di satu momentum, dimana saya bisa melihat orang-orang muda berusaha segigih mungkin meraih mimpinya. Dari mereka saya belajar untuk mencari, menggali, dan menapaki apa yang dinamakan mimpi.
Namun, setelah sekian lama berjalan, saya masih juga diliputi pertanyaan besar soal mimpi itu. Banyak kenapa, banyak ketakutan, banyak progresi realitas yang muncul disana. Namun, akhirnya saya bertahan, mencoba melepaskan satu-satu yang tidak penting, mempertahankan yang benar-benar saya inginkan.
Dunia yang benar-benar ingin saya geluti, tanpa harus bertanya soal benar atau salah.
Namun, hidup adalah yin dan yang. Ketika saya menemukan diri saya sudah menemukan mimpi, saya masih melihat orang muda diluar sana berjalan tanpa tahu mau membawa hidup mereka kemana. Yang ada hanyalah hari ini, dan besok perlu apa.
Mereka bersekolah, hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi mereka (baca: ijazah), tanpa mencari makanan utama mereka yaitu mimpi.
Dewi Lestari dalam Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh menjelaskan dengan cukup detail bagaimana seseorang berjalan dengan lingkungan, hanya menerima soal apa yang salah dan benar dalam lingkungannya, tanpa tahu apa keinginan pribadinya. Lewat seperempat abad, ia baru tahu apa mimpinya, apa passion nya, apa yang menjadi mimpinya.
Saya tidak mau, sungguh tidak mau kalau itu kejadian dalam diri kita sebagai remaja.
Saya sendiri tidak tahu bagaimana caranya mencari mimpi yang benar untuk hidup kalian kedepannya. Saya hanya bisa men-suggest untuk selalu melakukan obrolan dengan diri kalian. Biarkan kalian memanggil nama kalian dan mencari tahu sendiri apa mimpi kalian. Serta, sertakan Allah dalam pencarian itu.
Selamat mencari mimpimu!
0 comments:
Post a Comment