RSS
Write some words about you and your blog here

Pages

Monday, April 23, 2012

Patah Hati

Patah hati itu sebenernya gak selamanya buruk. Dan gak selamanya patah hati itu diidentikan sama orang yang entah cintanya gak terbalas atau apapun yang berkaitan sama cinta.

Patah hati, gue memandangnya sebagai sesuatu yang universal. Rasa kekecewaan yang mendalam terhadap suatu hal. Dan selama SMA, gue sering patah hati.

Terutama, patah hati gara-gara ekspektasi gue terhadap sesuatu gak tercapai karena gue orangnya memang terlampau perfeksionis dan mungkin ini bikin orang sebel karena gue orangnya selalu menargetkan kesempurnaan dalam setiap pekerjaan.

Sebenernya gue sendiri sadar, kalo yang membuat gue demikian itu gue sendiri. Gue memang selalu berekspektasi tinggi terhadap suatu hal terutama masalah akademis dan apa yang menjadi tujuan hidup gue. Sekali ekspektasi gue gak kesampean, gue bisa down banget namun gak lama kemudian bangkit lagi dan terus berusaha sampe gue ngedapetin apa yang gue mau. Itu gara-gara patah hati.

SMA mengajarkan gue banyak hal, terutama karena gue sering patah hati.
Gara-gara patah hati, gue jadi pekerja keras.
Gara-gara patah hati, gue jadi pantang menyerah.
Gara-gara patah hati, gue bersyukur ada orang-orang tertentu yang peduli dan menemani gue dalam menghadapi segala permasalahan.
Gara-gara patah hati, gue jadi orang yang jauh lebih sabar ketimbang dulu.
Gara-gara patah hati, gue belajar jadi orang yang realistis. Gak selamanya yang kita mau bisa kita dapetin. Mau udah berusaha dan berdoa pun, kalo emang Allah gak ngehendakin kita gak bakal dapetin.

Dari semua hal yang bikin gue patah hati, tanpa sadar gue menyapu kepingan yang ada dan mengumpulkannya untuk jadi orang yang lebih baik lagi.
Biar awalnya menyebalkan, tapi sekarang gue bersyukur selama SMA banyak mengalami ‘patah hati’ toh diantara banyak patah hati tersebut masih ada orang-orang tertentu yang membuat gue selalu bersemangat untuk bangkit dan ngumpulin kepingan yang patah. Ibaratnya, teman-teman dan kebahagiaan selama SMA itu lem yang menyambung hati biar utuh lagi walaupun sering patah <3

Mungkin ini post paling crappy yang pernah gue tulis di Blog ini. Tapi daripada tulisan ini tersimpan jadi sampah di otak gue mending ditulis.

Dari orang yang sering patah hati,
Rianda

Wednesday, April 18, 2012

Sebuah catatan kecil

Bahasa yang saya sampaikan adalah bahasa saya.
saya kadang susah berkata-kata ketika ada ruang beroksigen yang memaksa untuk berkata sambil bernafas. melakukan dua hal yang sama....
Bahasa ini terlalu tersirat atau jangan-jangan terlalu tersurat. tapi bukan itu intinya

ini hanya tentang sebuah chaos. sebuah ruangan yang kadang hanya berisi titik. tahukah kamu, bukan seperti itu caranya.

Membentukan kalimat utuh tidak sekedar kamu menaruh titik diakhir kalimaat, terkadang manusia lain disekeliling kamu dan saya, mengharapkan tanda koma, agar kita bisa melanjutkan, agar tak ada tanda seru diakhir.

Ini hanya sesimpel itu. tapii hati-hati, karena ketidakteraturan akan muncul, ya.... akan ada waktunya fraktal mengambil alih untuk ikut bermain dalam loncatan kuantum ini.

Hidup terkadang bukan selalu keharusan, tapi juga pilihan.
jadi, jika selalu berpikir 1+1 selalu berhasil 2, maka ternyata ada orang lain disekeliling kamu dan saya, yang meminta hasil 3 atau bahkan 100. lalu bagaimana?
itulah mengapa jangan kasih titik dibalakangnya, tapi berilah sebuah koma.

Hati-hati dengan loncatan kuantum manusia-manusia yang sudah jenuh akan sistem bifurkasi berpartikel tinggi, manusia-manusia yang benci didikte. manusia-manusia yang memilih menceburkan diri kedalam jurang dan bebas, daripada berada dalam kebun mawar yang penuh aturan-aturan berwarna abu-abu.

Pesan ini tidak ada objeknya, saya berbicara pada siapa saja. bahkan pada titisan langit berwarna merah jingga.
tapi untuk seseorang, ini ada pesannya. saya hanya mencoba merangkum sejenak. apa yang didapat. dari sebuah titik yang diberi, yang membuat saya mendengar tanda seru didapati dari manusia lain disebelah saya. tapi saya diam. saya sudah bilang, ini bahasa saya, bukan disana, disebuah ruang beroksigen yang menghimpit kami untuk berkata sambil bernafas.

Manusia seperti mereka tahu, bahwa apa yang berbahaya dan apa yang tidak. tapii tidak begitu caranya. kita mungkin tahu dan hafal betul peta kota jakarta, tapii ketika kita dipaksa bahkan didikte untuk mengikuti peta yang ada, maka nanti yang timbul adalah sebuah phase sapce, akan banyak fraktal berpartikel kelabu. ini yang haruus kita hindari

"Genggam tanganku tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin SEIRING bukan DIGIRING" itu kuncinya. biarkan kita sendiri yang tahu dan kita sendiri yang menjalankannya, bersama-sama. kadang ada manusia yang tak ingin digiring, tapii biarkan seiring, agar senada. seirama. akan lebih indah..

Saya hanya manusia kecil yang sekarang sedang sibuk berkata pada catatan kecil. tapii setiap kata yang tetulis berharap tidak terbuang sia-sia hanya karena kesoktahuan saya. saya hanya mencoba mencatat apa yang ada tentang hal kecil yang memiliki kekuatan atom berwarna merah muda.

hmh
bukankah hidup terkadang adalah pilihan? bukan keharusan, jadi jangan biarkan titik mengundang tanda seru yang membuat kamu akan terlonjak! tapi taruh sedikit koma diakhirnya, agar ada kata-kata manis yang akan terus dilanjutkan,

tidak ada unsur pesan bahkan dalam tulisan yang terlalu tersirat ini, atau ini hanya sebuah catatan yang amat tersurat, atau tak berarti yang hanya akan membuang energi untuk ditulis bahkan dibaca....
entahlah...
saya hanya mencoba berkata... karena hanya ini yang punya, hanya ini yang saya bisa. manusia kecil dengan bahasa kata-kata.

"Kesedihan tidak pernah membiarkan kebahagiaan datang sendirian ke hidup manusia, padahal seringkali kita tak punya cukup persediaan untuk menjamunya bersamaan.
Begitu banyak rasa sakit dan kehilangan, padahal hidup terlalu singkat untuk semua rasa itu.
Beruntunglah manusia yang tahu apa yang mereka cari, dan diberi cukup waktu untuk mencari.
Karena ada manusia yang tak punya cukup waktu untuk itu, bahkan untuk sekedar mencari tahu apa yang mereka cari.
Hingga pada akhirnya, cuma ada dua hal besar dalam hidup ini.
Kehilangan dan Harapan"

terimakasih untuk sebuah pembelajaran :)

Friday, April 13, 2012

Catatan merah jingga ungu kelabu

"Bukan maksudku berbagi nasib....nasib adalah kesunyian masing-masing"

Sudah lama tak berbagi...
Terlalu banyak kata terpendam, tersembunyi dibalik senyum manis yang terpaksa terpasang. Hanya untuk meramaikan langit. agar langit tak selamanya kelabu. untuk meramaikan langit, dengan semburat merah jingga bersama senyum berwarna ungu.

Baru kemarin hujan turun. butirannya selembut memori berwarna kelabu.
Hari-hari ini ada harapan yang minta diraih. butirannya berdatangan bak pelangi berwarna merah jingga.

Kemarin dan hari ini saya masih mematung tanpa payung...
merasakan butiran hitam lembut...
hanya diam
memandangi memori. melenyapkan harapan...

Ada yang bilang hidup dibiarkan untuk berbagi...
untuk apa?
bukankah nasib adalah kesunyian masing-masing?
kalau saya bisa berjalan dibawah langit berwarna merah jingga..
untuk apa saya kembali mengharapakan manusia berwarna ungu yang menciptakan kelabu

Tapi ruangan dalam hati punya kunci
manusia butuh manusia lain untuk berbagi..
kemudia bertanya?
saya butuh manusia lainkah?
saya sudah punya dalam masa lampau. dalam tubuh berwujud memori
dalam hitungan momentum-momentum waktu berwujud lampau
dalam partikel-partikel bernama masa lalu
dan semuanya tergambar dalam langit bernama memori berwarna ungu kelabu.
mengapa ungu?
mengapa kelabu?
Kenangan akan yang lalu berwarna ungu...
Kenyataan akan kehilanganlah yang berwarna kelabu...

Baru saja...
ada sebuah partikel berwarna merah jingga datang
partikel bernama harapan
sentuhan lembut yang membuat saya berpikir akan hari esok
lalu melihat langit
langit saya sudah merah jingga?
haruskah saya bermain kembali dengan harapan?
harapan bersama partikel berwujud manusia sekarang
haruskah kembali berharap akan momentum bernama masa datang?
momentum yang mungkin akan kembali berwarna kelabu...

saya bingung
saya lelah
saya terjebak dalam momentum waktu yang mempunyai tenaga bifurkasi tinggi akan hal bernama jatuh cinta..

ahh...
saya kembali meneguk secangkir kopi panas berwarna merah marun

harapan? dan memori?
Sekarang ada karena yang lalu juga ada
Dan yang datang akan ada karena sekarang juga ada

lalu?
-saya ragu ada yang mau berbagi nasib bersama saya kembali. Tidak juga Memori ataupun Harapan.-

"Bukan maksudku berbagi nasib...nasib adalah kesunyian masing-masing- (Chairil Anwar

Thursday, April 12, 2012

Cerita senja

Sitta mematung diantara senja merah ungu. Langit diatasnya terasa hanya sejengkal, dirinya yang putih kelabu seakan menyatu dengan senja ungu, lalu menari diantara menara cahaya berbintang jingga. Langit hanya sejengkal di atas kepalanya. diatas harapan yang memutar bersama rangkaian memori abu-abu. 

"Kalau kamu disuruh memilih, kamu pilih harapan? atau memori?" dirinya bertanya pada sesosok purnama disampingnya. hanya berbatas rangkaian berpartikel berkulit asa. 

"Saya pilih harapan" purnama berkata seiring bias senja berpayung merah jingga 

"Saya takut berharap"
"Kenapa Sitta? Karena takut akan terjatuh?"

Sitta kembali mematung diantara bias senja berlilitan awan kelabu. Jatuh. dia sudah pernah terjatuh. duluu. berasama memori yang pernah terbentuk lewat sejuntai harapan merah ungu. 

"Sitta, kamu jatuh cinta?" Purnama bertanya. Purnama berkata. sebuah kata tanya yang melonjat bersama partikel kuantum yang menyentuh raga untuk tersenyum. Bifurkasi jatuh cinta. hal terbodoh dan terhebat yang diciptakan sang maha kuasa. 

"Saya takut jatuh cinta lagi" Sitta berkata perlahan. seiring awan yang perlahan berganti dengan semburat langit jingga. semburat yang menyisakan tawa. menyisakan memori dan ketakutan akan harapan.

"Ini seperti teori kopi sita. kamu tau bahayanya, tapi karena kamu suka kamu akan tetap meneguknya. saya tau, itu berbahaya, tapi saya juga tau kamu tak akan takut merasakannya"

"Saya bukan takut jatuh cinta, purnama...hanya sedang memcoba kembali berharap, berharap akan manusia baru bernama harapan"

"Dan kamu jatuh cinta sama harapan itu?"
"Ya. mungkin saja. tapi saya takut hanya mencintai"
"Sitta...bukankah dunia indah dengan mencintai, dan selalu rusak karena tekanan untuk dicintai'

"Purnama...tapi kali ini aku mencintai harapan.."
"Itu lebih baik. daripada mencintai memori'

Sitta terdiam diantara partikel waktu. lalu lupa bahwa purnama hanya purnama. teman senja yang menciptakan dunia berwarna merah jambu.
Sitta berpikir diantara tekanan bifurkasi jatuh cinta. bersama semburat partikel berpayung teduh mentari senja.

Dan disenja itu dia tersenyum. berkata lirih dengan ragu yang menyusup perlahan diruang tak berdermaga.
"Saya jatuh cinta lagi?"

-Untuk manusia bernama harapan :)- Sitta

Menusuk dan Tersenyum

seharian ini puluhan bahkan ribuan detik terbuang
manusia berkata saya diam
manusia sibuk sendiri saya diam
tapi saya asik memperhatikan mereka
memperhatikan gerak tiap langkah yang bagai menari
kadang mereka saling tusuk tapi tersembunyi
kadang mereka saling menarik saling teriak
dan saya hanya diam

manusia manusia ingin menjadi ini diantara itu
menjadi itu diantara ini
saya diam saja

berpikir dan bertanya
untuk apa mereka?
saling membentur tapi tersenyum
saling tersenyum tapi membentur

aneh
tapi saya masih diam
D
I
A
M

kadang tak berkata itu menyenangkan
karena saya tak ingin tersenyum hari ini
tak ingin tertawa hari ini
tak ingin menusuk hari ini

saya tau dibalik tusukan dan manusia yang pura2 tertawa
ada seorang yang benar-benar TERTUSUK
tapi menapa dia pura-pura TERTAWA
ada juga orang yang balik menusuk padahal dia tak tertusuk
buat apa dia ikut-ikutan MENUSUK
tapi ada juga yang hanya tertawa
tertawa karena berhasil menusuk
tertawa karena berhasil menyakiti

ADA APA DENGAN INI?
Saya bingung
siapa yang harus TETRTAWA
SIAPA YANG HARUS MENANGIS?
manusia yang saya pikir menangis, DIA MALAH PURA-PURA TERTAWA

jadi
lebih baik diam saja
seperti saya
kadang..
diam itu lebih baik daripada berpura-pura


-jangan saling menusuk kalo yang dibutuhkan hanya tawa, dan jangan saling tertawa kalo sebenarnya ingin menyakiti-

Isyarat

Siapakah makhluk ini sesungguhnya?
Terkirim tuhan tanpa isyarat.
Atau memang dia tak perlu isyarat.

Siapakah makhluk ini sesungguhnya?
Terkirim tuhan tanpa tujuan.
Atau mungkin dia memang tanpa tujuan.

Siapakah makhluk ini sesungguhnya?
Terkirim tuhan untuk menghapus memori.
Atau hanya mencoba menghapusnya.

Dia..
Datang tanpa isyarat.
Datang tanpa syarat.

Siapakah makhluk ini sesungguhnya?
Bermain bersama waktu. Bermain bersama aku.
Siapakah makhluk ini sesungguhnya?
Mencuri kesendirianku.

Dia..
Pergi tanpa isyarat.
Pergi tanpa syarat.

Siapakah makhluk ini sesungguhnya?
Dtang dan pergi semaunya.
Datang dan pergi tanpa aturan.

Siapakah makhluk ini tuhan?

Bilang padanya.
Dia boleh datang.
Tapi tolong jangan pergi..

Tuesday, April 10, 2012

Mencintai.. Dicintai..

sudah lama saya tidak menulis
dan kemudian menyadari
saya juga sudah lama tidak mencintai

mungkin mencintai sama dengan menulis
sudah lama saya tidak menulis
sampai lupa bagaimana, menarikan jari jemari diatas tuts keyboard yang menjadi kering
mencintai juga begitu
sudah lama saya tidak mencintai
sampai lupa bagaimana, memulai bermain hati dengan hati-hati
saya juga sudah lama tidak merindu
tepatnya malas untuk merindu
mungkin lama kelamaan saya akan lupa bagaimana rasanya merindu 

saya lalu kembali menulis
merangkai kata
menarikan jemari diatas keyboard yg sudah agak basah akan keringat kecil dari sela-sela jari
saya lalu kembali mencintai
kembali berharap 
kembali tersenyum karena hal-hal kecil yang entahlah
tapi saya lupa sesuatu
sudah lama saya tidak dicintai
mungkin saya sudah lupa rasanya
rasanya digiring dan seiring
rasanya berlari dengan ikatan yang sebetulnya bukan itu hakikatnya
saya mungkin kembali merindukan
tapi bukan dirindukan
saya mungkin kembali mencintai
tapi bukan berarti dicintai
kalau kini saya kembali menulis
bukan berarti juga saya kembali ditulis

saya lebih suka apa?
me- atau di-
subjek atau objek
entahlah

kembali mengharapkan seseorang
bukan kembali diharapkan oleh seseorang

bukankah mencintai hanya akan dibunuh karena tuntutan untuk dicintai

yaaaa
biarkan saja begini
biarkan kembali menulis, agar tidak lupa rasanya
biarkan kembali mencintai seseorang, agar banyak kata terangkai kembali
biarkan kembali merindukan seseorang, agar kemudian menjadi alasan kita bergerak ke satu tempat
biarkan kembali mengharapkan seseorang, agar hidup berjalan ke depan

biarkan saja
tanpa perlu
dicintai
dirindukan
diharapkan

bukankah
"Allah selalu tahu, hanya menunggu"

ya menunggu

bukan ditunggu :D

Kabel Hitan dan Harapan

Saya tulis ini saat berada disebuah benda bergerak yang membawa saya menuju sebuah kota
di sebuahperjalanan memaafkan

Tentang si kabel hitam..

Saya suka mengamati kabel listrik berwarna hitam
mengamati dan mengikuti gerakannya
diantara saya yang dibawa bergerak oleh suatu benda yang tak punya jumlah roda pasti

tali panjang hitam itu menari dan mengajak saya bermain kejar-kejaran
tali hitam itu terasa amat dekat seakan saat saya mengulurkan jemari keluar
maka saya dapat menyentuhnya dan meminta dia berhenti menari

tali hitam yang masih menari itu mengingatkan saya pada nya
ternyata..
terbesit saya masih mengharapkannya jadi nyata
mata saya masih tertipu pada harapan
masih tertipu akan dia yang saya harapkan, ingin menrai bersama saya
masih tertipu akan dia yang saya rasa dekat dengan saya, meski jauh ternyata
masih tertipu akan dia yang saya harapkan mengajak saya kembali bermain dan bermimpi
dia..
harapan yang seakan dekat padahal amat sangat jauh

lalu?
haruskah saya mengulurkan tangan keluar jendela, mencoba menyentuh tali hitam itu, lalu saya yakin tak tersentuh, maka akan membuat saya luka
sama seperti diamanusia yang seakan terlihat dekat, 
tapi ternyata tak mungkin digapai
ya..
saya harus berdamai dengan kenyataan
kenyataan bahwa tali hitam itu sebenarnya jauh
dia juga tak sungguh sedang menari
tali hitam itu hanya diam
saya yang menari sendiri
ya..
kenyataan bahwa
saya memang sendiri

Monday, April 9, 2012

Asing

lebih sulit mana, bahasa asing atau bahasa lokal?
jelas asing..

lebih susah mana menemukan tempat di daerah sendiri atau di daerah asing?
jelas asing..
sama susahnya 
mencintai orang asing

dia sama sekali tak usang
bahkan hampir sempurna
tapi dia asing
susah
tapi bisakah?
mungkin bisa
seperti bahasa asing yang bisa minta bantuan penerjemah
atau daerah asing yang memerlukan peta
tapi dia
orang asing yang saya bingung siapa penerjemahnya, dimana petanya

mungkin bisa
atau bisa juga tidak

tapi saya serius 
pada orang asing yang tak usang

Mencintai tak beralasan

pernah sangat menyukai seseorang karena tak ada alasan untuk kita tak suka?

sederhananya

seperti menyukai berlian
siapapun bisa dan hampir pasti suka pada berlian
siapa pun kadang mengharapkan memiliki berlian

ada sosok yang menyerupai berlian yang saat melihatnya tak ada alasan untuk tak suka

saya pernah
sosok yang diciptakan tuhan tanpa celah
bukan hanya bentuknya yang baik
tapi perangkatnya juga baik
tapi dia ternyata bukan yang baik untuk saya

kemarin

saya liat batu pualam
entahlah apa itu
batu asing yang saya tak tahu darimana
sosok yang kemudian saya sukai
tak ada alasan juga untuk tak menyukainya
dia pantas disukai
bentuknya menarik

tapi saya bukan hanya menyukainya karena apa yang tuhan bentuk

kali ini tiba-tiba semuanya tanpa alasan
entahlah

saya?

haa
jangan harapkan ada seseorang yang menyukai saya tanpa alasan
bukan pula sosok yang diciptakan dan bisa langsung disukai
jauh dari itu
tapi terserah bagaimana orang melihat saya

saya sedang suka pada batu ini

sangat
saya tak perlu lagi berlian yang kilaunya terlewat menyilaukan
saya tak lagi mengharapakan  batu indah yang pernah datang dan sudah pergi
sekarang saya jujur hanya ingin dia

saya suka batu asing itu tanpa alasan

saya suka senyumnya
saya suka kata-katanya
saya suka suara yang disuakannya
 
 taukah
saya cuman mau itu

tapi saya tau

saya bukan sosok yang diharapkan tanpa alasan
bukan pula perempuan cantik dengan sebongkah kepintaran
bukan perempuan dalam film cinta yang memakai bando berpita
bukan pula perempuan menarik

saya sosok yang tuhan ciptakan dan saya imajinasikan

terserah

tapi saya mau kamu

ya cukuplah
saya mau senyummu

tersenyumlah

tak selalu untuk saya
tak selalu karena saya
karena kamu sosok asing yang saya rasa punya banyak alasan untuk tersenyum


kalau saya egois

saya mau kamu tersenyum karena saya


tapi tetap tersenyumlah

sosok asing yang membuat saya penasaran

saya penasaran

sangat
pada dia yang tak beralasan
pada dia yang menarik perhatian
pada dia yang melupakan ingatan

ketika rindu sesederhana mengecek timeline twitter mu tiap malam, menunggu warna hijau di chat facebookmu, melihat namamu diinbox handphone dan menunggu sebuah sapaan, ketika rindu sesederhana melakukan itu diam-diam di dini hari, ditemani secangkir kopi, di antara tumpukan deadline.

sesederhana rindu yang diam-diam dan berharap tersampaikan.

Karena saya perempuan

karena saya perempuan dan dia laki-laki
dibedakan lagi
tuntutannya beda
mau gimana lagi

karena saya perempuan saya tak berani mengajaknya meminum kopi lebih dulu

saya juga tak berani menyapanya lebih dulu
apalagi tiba-tiba mengajaknya menikmati pertunjukkan musik

sekali lagi cuman karena saya perempuan?


yang lalu saya pernah menyalahi itu

saya perempuan dan saya melakukan apa yang orang bilang tak "perempuan lakukan"
nyatanya
dia yang bilang dirinya "laki-laki" tak suka

karena saya perempuan dan saya cuman ingin disukai

tapi
menunggu itu tak asik
menunggu itu tak menantang

lalu kenapa harus perempuan yang menunggu?

saya cuman ingin mengajaknya berbicara
saya cuman ingin menawarkannya minum kopi bersama
atau sekedar menyapanya

tapi

kata orang saya perempuan
dan saya menunggu
sampai dia yang melakukan itu
kalau dia tak melakukan?

ya

kata orang saya harus diam
perempuan itu dicintai bukan mencintai
cih
saya suka mencintai
tapi sudah lama tak dicintai
kali ini
saya perempuan seperti apa yang orang-orang bilang
maka biarkan menunggu

hei kamu orang asing yang tak sadar juga


karena saya perempuan

saya menunggu

Yang hilang dan yang datang

apa yang hilang?

gak ada yang hilang karena sudah tak ada lagi yang datang


kalau banyak yang hilang itu pasti karena ada yang datang


kini tak ada yang hilang

karena sudah tak ada lagi yang datang

jadi beruntunglah manusia yang pernah kehilangan, karena dia juga pasti pernah mengalami kedatangan


beruntung.

Apa yang beda?

ada yang beda?
ada.
apa?

Saya masih menulis, tapi tulisan ini tak berobjek. Tak ada lagi manusia yang meminta dirangkaikan kata, tak ada lagi manusia yang bisa diceritakan karena banyak cerita. saya masih menulis. Tapi apa yang beda?. yang beda adalah, semua tulisan saya ini bukan buat seseorang dan bukan karena seseorang, tapi karena ini hidup. kalau saya tak menulis saya tak hidup. Jadi apa yang beda?

Friday, April 6, 2012

05 April 2012

'Starry Night' by Vincent Van Gogh*
 
masih pada rangkaian hari yang sama kita menyaksikan langit yang berubah menjadi jingga
lucu, karena bahkan kita tak lihat ia berwarna jingga karena tertutup awan kelabu dan dentuman hujan
namun tetap kita percaya bahwa kemutlakan jingga tak kan tergantikan oleh warna lain
dari jingga kembalilah datang temaram, yang entah mendatangi atau kita datangi
kita berdua terduduk dalam lamunan tanpa akhir, kau dan aku

engkau selalu ada dalam tiada dan dalam ada aku takut engkau kan tiada
impian kita bersambut pada keterbatasan makna yang terangkai oleh kata
dan tiada enggan dapat tersampaikan apabila memaknai relasi kita

engkau berbicara mengenai perihal kebahagiaan yang mungkin tak kan sama
dan aku berkata mengenai pertemuan akan belahan jiwa yang diragukan validitasnya
bahwa elemen-elemen yang saling tarik-menarik bukanlah hasil dari kebetulan semata

ketahuilah sayang, aku tak pernah percaya pada konsep pre-destinasi
namun aku selalu berpegang teguh pada takdir yang berkorelasi dengan masa depan yang acak

sekali lagi engkau berbicara mengenai perihal kebahagiaan yang mungkin tak kan sama, kebahagiaanku..
aku terdiam, dan kita saling mengutuk keterbatasan makna yang dapat tersampaikan oleh emosi semata
betapa emosi yang abstrak itu dapat menghasilkan suatu bias tanda tanya yang tanpa akhir
disertai lamunan serta perdebatan tanpa dasar maupun ujung yang memaknai pertemuan kita malam itu

namun ketahuilah kita tidak berbicara mengenai kesedihan
kita berbicara mengenai perihal kejanggalan yang disebabkan oleh relasi affinitas antara kita berdua

kita tidak mengutuk takdir, tidak..
hanya menjembatani kejenakaannya yang kadang tidak sesuai dengan logika
ya, kejenakaan dan bukan kesedihan..
kejanggalan dan bukan perbedaan..
ketakutan dan bukan keengganan..
segala hal yang merepresentasikan sama rasa diantara kita

aku menggenggam tanganmu dan kau menggenggam tanganku
berharap apa yang kita genggam adalah sebongkah impian yang dapat diraih tanpa adanya turbulensi
bahwa kebahagiaan pun dapat bersembunyi dari faktualitas relasi kontradiktif

ide dan materi, iya sayang, kita memang berkutat dengan itu..
ide dan materi beserta hubungan resiprokalnya
serta berbagai probabilita yang dapat tercipta dari padanya..

namun pergolakan tersebut mengundang datangnya gulita
ia yang datang menggantikan temaram, 
disertai dering tanpa akhir yang seharusnya menyudahi pertemuan kita malam itu

kita pun berjalan,
berusaha sejauh-jauhnya dari faktualitas yang harus bergerak menuju tempatnya masing-masing
dalam perjalanan engkau masih mempertanyakan keabsahan jawaban yang kauterima dariku
dan aku hanya tersenyum sembari menyampaikan rahasia yang masih terkunci rapat dalam benakku
sebuah rahasia yang semestinya terjawab apabila kau melihat 97 derajat ke bawah tanpa bias

dan faktualitas itu pun masih ada, menunggu untuk bergerak
engkau menghantar aku sesampai pada batas akhir pertemuan kita
dan sekali-kali aku tak ingin melepas kepergianmu
seakan hanya ada satu pola yang berlaku malam itu, yakni perpisahan

namun sekali kata pula engkau membawaku kembali pada faktualitas yang menunggu untuk kugerakkan
dan keberadaan berbagai probabilita yang berkorelasi dengannya
aku menatap wajahmu yang bersimbah keremangan malam
dan harus kuakui tiada wajah lain yang lebih bersinar dibanding wajahmu saat itu
seakan nyala redup lampu jalan dikalahkan oleh paras wajahmu yang tiada membisu

sekerling mata itu, secercah senyum itu
pergerakan bibir yang menyatakan kata cinta
serta berbagai sentuhan tanpa makna ganda 
menyentuh lendir yang merupakan hasil korelasi antara kepedihan dan penyakit musiman

perpisahan itu diakhiri dengan kecupan
dengan engkau yang masih berdiri di sana
dan aku yang bergerak perlahan bersama faktualitasku
menyingkapi keharusanmu untuk juga berjalan perlahan menuju faktualitasmu sendiri

kau yang masih berdiri di sana
dan aku yang berada di sini
berpisah jalan di persimpangan
namun bergerak perlahan menuju satu konklusi..

(Rianda Rizky Permata, April-06-2012)

*i'm a huge fan of Van Gogh, and the painting somehow represents the feeling very well..

Me and My Subjective Meaning

Salah satu frase yang sering saya ucapkan, baik dalam ranah akademis maupun kasual, adalah 'pemaknaan subyektif' (subjective meaning). Tidak hanya saya ucapkan, interpretasi serta perwujudannya dalam kehidupan sehari-hari nampaknya menjadi isu yang kerap kali saya pertanyakan. Mungkin hal ini salah satunya diakibatkan oleh kekaguman saya terhadap pemikiran Weber. Namun, di luar itu semua, kadangkala saya pun menyadari betapa pemahaman minimal saya mengenai konsep pemaknaan subyektif ini telah sedikit banyak merubah sudut pandang saya dalam menanggapi hidup. 

Saya kesal, dan ingin marah rasanya ketika saya 'seakan dipaksa' untuk menjadi lebih bijaksana dalam menanggapi berbagai permasalahan sehubungan dengan interaksi sosial saya, baik dengan individu maupun dengan kelompok lain. Bahkan ada kalanya saya merasa sangat amat perlu menggeleng-gelengkan kepala dengan cukup keras untuk membuat konsep tersebut keluar dari kepala saya sambil mengatakan, "HELLO!! I just want to be an 'Ego'!!", sembari memaki pengetahuan saya yang tentunya terbilang masih amat sangat sedikit mengenai konsep tersebut. 

Saya sebenarnya yakin, dengan ada tidaknya empirisisme terhadap konsep tersebut, tiap-tiap individu pastinya secara alamiah menyadari adanya keberadaan pemaknaan subyektif serta keberadaan bentukan kausal dari hal itu. Namun, yang sangat saya sayangkan adalah keberadaan konsep tersebut di dalam kepala saya mempertegas realitanya. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, saya 'seakan dipaksa' untuk menjadi lebih bijaksana dalam menanggapi berbagai permasalahan, saya merasa 'dipaksa' untuk menjadi dewasa, 'dipaksa' untuk berpikir secara mendalam ketika saya hanya ingin menjadi seorang 'ego', di mana secara sederhana diartikan sebagai rasionalitas kesadaran diri saya sendiri. Saya hanya ingin berpikir simpel, self-centered, tanpa harus berpikir keras menganalisa mengenai jalan pemikiran individu-individu lain beserta bentukan kausalnya. Namun apa daya, nasi telah menjadi bubur, dan saya harus hidup sembari dihantui konsep tersebut sepanjang sisa hidup saya.

Dari hasil gerundelan saya di atas, tentunya tidak berlebihan apabila saya mengatakan bahwa konsep 'pemaknaan subyektif' telah sedikit banyak mengubah hidup saya. Bukan saya yang dapat menilai apakah perubahan itu berjalan lebih ke arah positif atau negatif. Namun, satu hal yang pasti, yang sebenarnya sedikit banyak membuat saya ingin tertawa satir, adalah bahwa segala hal yang barusan saya tulis dan keluhkan sebenarnya tak lain dan tak bukan adalah pemaknaan subyektif saya mengenai konsep 'pemaknaan subyektif' itu sendiri. 

Ironis?? sekali lagi, bukan saya yang dapat menilai.. :)


(Rianda Rizky Permata, April-06-2012)

Monday, April 23, 2012

Patah Hati


Patah hati itu sebenernya gak selamanya buruk. Dan gak selamanya patah hati itu diidentikan sama orang yang entah cintanya gak terbalas atau apapun yang berkaitan sama cinta.

Patah hati, gue memandangnya sebagai sesuatu yang universal. Rasa kekecewaan yang mendalam terhadap suatu hal. Dan selama SMA, gue sering patah hati.

Terutama, patah hati gara-gara ekspektasi gue terhadap sesuatu gak tercapai karena gue orangnya memang terlampau perfeksionis dan mungkin ini bikin orang sebel karena gue orangnya selalu menargetkan kesempurnaan dalam setiap pekerjaan.

Sebenernya gue sendiri sadar, kalo yang membuat gue demikian itu gue sendiri. Gue memang selalu berekspektasi tinggi terhadap suatu hal terutama masalah akademis dan apa yang menjadi tujuan hidup gue. Sekali ekspektasi gue gak kesampean, gue bisa down banget namun gak lama kemudian bangkit lagi dan terus berusaha sampe gue ngedapetin apa yang gue mau. Itu gara-gara patah hati.

SMA mengajarkan gue banyak hal, terutama karena gue sering patah hati.
Gara-gara patah hati, gue jadi pekerja keras.
Gara-gara patah hati, gue jadi pantang menyerah.
Gara-gara patah hati, gue bersyukur ada orang-orang tertentu yang peduli dan menemani gue dalam menghadapi segala permasalahan.
Gara-gara patah hati, gue jadi orang yang jauh lebih sabar ketimbang dulu.
Gara-gara patah hati, gue belajar jadi orang yang realistis. Gak selamanya yang kita mau bisa kita dapetin. Mau udah berusaha dan berdoa pun, kalo emang Allah gak ngehendakin kita gak bakal dapetin.

Dari semua hal yang bikin gue patah hati, tanpa sadar gue menyapu kepingan yang ada dan mengumpulkannya untuk jadi orang yang lebih baik lagi.
Biar awalnya menyebalkan, tapi sekarang gue bersyukur selama SMA banyak mengalami ‘patah hati’ toh diantara banyak patah hati tersebut masih ada orang-orang tertentu yang membuat gue selalu bersemangat untuk bangkit dan ngumpulin kepingan yang patah. Ibaratnya, teman-teman dan kebahagiaan selama SMA itu lem yang menyambung hati biar utuh lagi walaupun sering patah <3

Mungkin ini post paling crappy yang pernah gue tulis di Blog ini. Tapi daripada tulisan ini tersimpan jadi sampah di otak gue mending ditulis.

Dari orang yang sering patah hati,
Rianda

Wednesday, April 18, 2012

Sebuah catatan kecil


Bahasa yang saya sampaikan adalah bahasa saya.
saya kadang susah berkata-kata ketika ada ruang beroksigen yang memaksa untuk berkata sambil bernafas. melakukan dua hal yang sama....
Bahasa ini terlalu tersirat atau jangan-jangan terlalu tersurat. tapi bukan itu intinya

ini hanya tentang sebuah chaos. sebuah ruangan yang kadang hanya berisi titik. tahukah kamu, bukan seperti itu caranya.

Membentukan kalimat utuh tidak sekedar kamu menaruh titik diakhir kalimaat, terkadang manusia lain disekeliling kamu dan saya, mengharapkan tanda koma, agar kita bisa melanjutkan, agar tak ada tanda seru diakhir.

Ini hanya sesimpel itu. tapii hati-hati, karena ketidakteraturan akan muncul, ya.... akan ada waktunya fraktal mengambil alih untuk ikut bermain dalam loncatan kuantum ini.

Hidup terkadang bukan selalu keharusan, tapi juga pilihan.
jadi, jika selalu berpikir 1+1 selalu berhasil 2, maka ternyata ada orang lain disekeliling kamu dan saya, yang meminta hasil 3 atau bahkan 100. lalu bagaimana?
itulah mengapa jangan kasih titik dibalakangnya, tapi berilah sebuah koma.

Hati-hati dengan loncatan kuantum manusia-manusia yang sudah jenuh akan sistem bifurkasi berpartikel tinggi, manusia-manusia yang benci didikte. manusia-manusia yang memilih menceburkan diri kedalam jurang dan bebas, daripada berada dalam kebun mawar yang penuh aturan-aturan berwarna abu-abu.

Pesan ini tidak ada objeknya, saya berbicara pada siapa saja. bahkan pada titisan langit berwarna merah jingga.
tapi untuk seseorang, ini ada pesannya. saya hanya mencoba merangkum sejenak. apa yang didapat. dari sebuah titik yang diberi, yang membuat saya mendengar tanda seru didapati dari manusia lain disebelah saya. tapi saya diam. saya sudah bilang, ini bahasa saya, bukan disana, disebuah ruang beroksigen yang menghimpit kami untuk berkata sambil bernafas.

Manusia seperti mereka tahu, bahwa apa yang berbahaya dan apa yang tidak. tapii tidak begitu caranya. kita mungkin tahu dan hafal betul peta kota jakarta, tapii ketika kita dipaksa bahkan didikte untuk mengikuti peta yang ada, maka nanti yang timbul adalah sebuah phase sapce, akan banyak fraktal berpartikel kelabu. ini yang haruus kita hindari

"Genggam tanganku tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin SEIRING bukan DIGIRING" itu kuncinya. biarkan kita sendiri yang tahu dan kita sendiri yang menjalankannya, bersama-sama. kadang ada manusia yang tak ingin digiring, tapii biarkan seiring, agar senada. seirama. akan lebih indah..

Saya hanya manusia kecil yang sekarang sedang sibuk berkata pada catatan kecil. tapii setiap kata yang tetulis berharap tidak terbuang sia-sia hanya karena kesoktahuan saya. saya hanya mencoba mencatat apa yang ada tentang hal kecil yang memiliki kekuatan atom berwarna merah muda.

hmh
bukankah hidup terkadang adalah pilihan? bukan keharusan, jadi jangan biarkan titik mengundang tanda seru yang membuat kamu akan terlonjak! tapi taruh sedikit koma diakhirnya, agar ada kata-kata manis yang akan terus dilanjutkan,

tidak ada unsur pesan bahkan dalam tulisan yang terlalu tersirat ini, atau ini hanya sebuah catatan yang amat tersurat, atau tak berarti yang hanya akan membuang energi untuk ditulis bahkan dibaca....
entahlah...
saya hanya mencoba berkata... karena hanya ini yang punya, hanya ini yang saya bisa. manusia kecil dengan bahasa kata-kata.

"Kesedihan tidak pernah membiarkan kebahagiaan datang sendirian ke hidup manusia, padahal seringkali kita tak punya cukup persediaan untuk menjamunya bersamaan.
Begitu banyak rasa sakit dan kehilangan, padahal hidup terlalu singkat untuk semua rasa itu.
Beruntunglah manusia yang tahu apa yang mereka cari, dan diberi cukup waktu untuk mencari.
Karena ada manusia yang tak punya cukup waktu untuk itu, bahkan untuk sekedar mencari tahu apa yang mereka cari.
Hingga pada akhirnya, cuma ada dua hal besar dalam hidup ini.
Kehilangan dan Harapan"

terimakasih untuk sebuah pembelajaran :)

Friday, April 13, 2012

Catatan merah jingga ungu kelabu


"Bukan maksudku berbagi nasib....nasib adalah kesunyian masing-masing"

Sudah lama tak berbagi...
Terlalu banyak kata terpendam, tersembunyi dibalik senyum manis yang terpaksa terpasang. Hanya untuk meramaikan langit. agar langit tak selamanya kelabu. untuk meramaikan langit, dengan semburat merah jingga bersama senyum berwarna ungu.

Baru kemarin hujan turun. butirannya selembut memori berwarna kelabu.
Hari-hari ini ada harapan yang minta diraih. butirannya berdatangan bak pelangi berwarna merah jingga.

Kemarin dan hari ini saya masih mematung tanpa payung...
merasakan butiran hitam lembut...
hanya diam
memandangi memori. melenyapkan harapan...

Ada yang bilang hidup dibiarkan untuk berbagi...
untuk apa?
bukankah nasib adalah kesunyian masing-masing?
kalau saya bisa berjalan dibawah langit berwarna merah jingga..
untuk apa saya kembali mengharapakan manusia berwarna ungu yang menciptakan kelabu

Tapi ruangan dalam hati punya kunci
manusia butuh manusia lain untuk berbagi..
kemudia bertanya?
saya butuh manusia lainkah?
saya sudah punya dalam masa lampau. dalam tubuh berwujud memori
dalam hitungan momentum-momentum waktu berwujud lampau
dalam partikel-partikel bernama masa lalu
dan semuanya tergambar dalam langit bernama memori berwarna ungu kelabu.
mengapa ungu?
mengapa kelabu?
Kenangan akan yang lalu berwarna ungu...
Kenyataan akan kehilanganlah yang berwarna kelabu...

Baru saja...
ada sebuah partikel berwarna merah jingga datang
partikel bernama harapan
sentuhan lembut yang membuat saya berpikir akan hari esok
lalu melihat langit
langit saya sudah merah jingga?
haruskah saya bermain kembali dengan harapan?
harapan bersama partikel berwujud manusia sekarang
haruskah kembali berharap akan momentum bernama masa datang?
momentum yang mungkin akan kembali berwarna kelabu...

saya bingung
saya lelah
saya terjebak dalam momentum waktu yang mempunyai tenaga bifurkasi tinggi akan hal bernama jatuh cinta..

ahh...
saya kembali meneguk secangkir kopi panas berwarna merah marun

harapan? dan memori?
Sekarang ada karena yang lalu juga ada
Dan yang datang akan ada karena sekarang juga ada

lalu?
-saya ragu ada yang mau berbagi nasib bersama saya kembali. Tidak juga Memori ataupun Harapan.-

"Bukan maksudku berbagi nasib...nasib adalah kesunyian masing-masing- (Chairil Anwar

Thursday, April 12, 2012

Cerita senja


Sitta mematung diantara senja merah ungu. Langit diatasnya terasa hanya sejengkal, dirinya yang putih kelabu seakan menyatu dengan senja ungu, lalu menari diantara menara cahaya berbintang jingga. Langit hanya sejengkal di atas kepalanya. diatas harapan yang memutar bersama rangkaian memori abu-abu. 

"Kalau kamu disuruh memilih, kamu pilih harapan? atau memori?" dirinya bertanya pada sesosok purnama disampingnya. hanya berbatas rangkaian berpartikel berkulit asa. 

"Saya pilih harapan" purnama berkata seiring bias senja berpayung merah jingga 

"Saya takut berharap"
"Kenapa Sitta? Karena takut akan terjatuh?"

Sitta kembali mematung diantara bias senja berlilitan awan kelabu. Jatuh. dia sudah pernah terjatuh. duluu. berasama memori yang pernah terbentuk lewat sejuntai harapan merah ungu. 

"Sitta, kamu jatuh cinta?" Purnama bertanya. Purnama berkata. sebuah kata tanya yang melonjat bersama partikel kuantum yang menyentuh raga untuk tersenyum. Bifurkasi jatuh cinta. hal terbodoh dan terhebat yang diciptakan sang maha kuasa. 

"Saya takut jatuh cinta lagi" Sitta berkata perlahan. seiring awan yang perlahan berganti dengan semburat langit jingga. semburat yang menyisakan tawa. menyisakan memori dan ketakutan akan harapan.

"Ini seperti teori kopi sita. kamu tau bahayanya, tapi karena kamu suka kamu akan tetap meneguknya. saya tau, itu berbahaya, tapi saya juga tau kamu tak akan takut merasakannya"

"Saya bukan takut jatuh cinta, purnama...hanya sedang memcoba kembali berharap, berharap akan manusia baru bernama harapan"

"Dan kamu jatuh cinta sama harapan itu?"
"Ya. mungkin saja. tapi saya takut hanya mencintai"
"Sitta...bukankah dunia indah dengan mencintai, dan selalu rusak karena tekanan untuk dicintai'

"Purnama...tapi kali ini aku mencintai harapan.."
"Itu lebih baik. daripada mencintai memori'

Sitta terdiam diantara partikel waktu. lalu lupa bahwa purnama hanya purnama. teman senja yang menciptakan dunia berwarna merah jambu.
Sitta berpikir diantara tekanan bifurkasi jatuh cinta. bersama semburat partikel berpayung teduh mentari senja.

Dan disenja itu dia tersenyum. berkata lirih dengan ragu yang menyusup perlahan diruang tak berdermaga.
"Saya jatuh cinta lagi?"

-Untuk manusia bernama harapan :)- Sitta

Menusuk dan Tersenyum


seharian ini puluhan bahkan ribuan detik terbuang
manusia berkata saya diam
manusia sibuk sendiri saya diam
tapi saya asik memperhatikan mereka
memperhatikan gerak tiap langkah yang bagai menari
kadang mereka saling tusuk tapi tersembunyi
kadang mereka saling menarik saling teriak
dan saya hanya diam

manusia manusia ingin menjadi ini diantara itu
menjadi itu diantara ini
saya diam saja

berpikir dan bertanya
untuk apa mereka?
saling membentur tapi tersenyum
saling tersenyum tapi membentur

aneh
tapi saya masih diam
D
I
A
M

kadang tak berkata itu menyenangkan
karena saya tak ingin tersenyum hari ini
tak ingin tertawa hari ini
tak ingin menusuk hari ini

saya tau dibalik tusukan dan manusia yang pura2 tertawa
ada seorang yang benar-benar TERTUSUK
tapi menapa dia pura-pura TERTAWA
ada juga orang yang balik menusuk padahal dia tak tertusuk
buat apa dia ikut-ikutan MENUSUK
tapi ada juga yang hanya tertawa
tertawa karena berhasil menusuk
tertawa karena berhasil menyakiti

ADA APA DENGAN INI?
Saya bingung
siapa yang harus TETRTAWA
SIAPA YANG HARUS MENANGIS?
manusia yang saya pikir menangis, DIA MALAH PURA-PURA TERTAWA

jadi
lebih baik diam saja
seperti saya
kadang..
diam itu lebih baik daripada berpura-pura


-jangan saling menusuk kalo yang dibutuhkan hanya tawa, dan jangan saling tertawa kalo sebenarnya ingin menyakiti-

Isyarat


Siapakah makhluk ini sesungguhnya?
Terkirim tuhan tanpa isyarat.
Atau memang dia tak perlu isyarat.

Siapakah makhluk ini sesungguhnya?
Terkirim tuhan tanpa tujuan.
Atau mungkin dia memang tanpa tujuan.

Siapakah makhluk ini sesungguhnya?
Terkirim tuhan untuk menghapus memori.
Atau hanya mencoba menghapusnya.

Dia..
Datang tanpa isyarat.
Datang tanpa syarat.

Siapakah makhluk ini sesungguhnya?
Bermain bersama waktu. Bermain bersama aku.
Siapakah makhluk ini sesungguhnya?
Mencuri kesendirianku.

Dia..
Pergi tanpa isyarat.
Pergi tanpa syarat.

Siapakah makhluk ini sesungguhnya?
Dtang dan pergi semaunya.
Datang dan pergi tanpa aturan.

Siapakah makhluk ini tuhan?

Bilang padanya.
Dia boleh datang.
Tapi tolong jangan pergi..

Tuesday, April 10, 2012

Mencintai.. Dicintai..


sudah lama saya tidak menulis
dan kemudian menyadari
saya juga sudah lama tidak mencintai

mungkin mencintai sama dengan menulis
sudah lama saya tidak menulis
sampai lupa bagaimana, menarikan jari jemari diatas tuts keyboard yang menjadi kering
mencintai juga begitu
sudah lama saya tidak mencintai
sampai lupa bagaimana, memulai bermain hati dengan hati-hati
saya juga sudah lama tidak merindu
tepatnya malas untuk merindu
mungkin lama kelamaan saya akan lupa bagaimana rasanya merindu 

saya lalu kembali menulis
merangkai kata
menarikan jemari diatas keyboard yg sudah agak basah akan keringat kecil dari sela-sela jari
saya lalu kembali mencintai
kembali berharap 
kembali tersenyum karena hal-hal kecil yang entahlah
tapi saya lupa sesuatu
sudah lama saya tidak dicintai
mungkin saya sudah lupa rasanya
rasanya digiring dan seiring
rasanya berlari dengan ikatan yang sebetulnya bukan itu hakikatnya
saya mungkin kembali merindukan
tapi bukan dirindukan
saya mungkin kembali mencintai
tapi bukan berarti dicintai
kalau kini saya kembali menulis
bukan berarti juga saya kembali ditulis

saya lebih suka apa?
me- atau di-
subjek atau objek
entahlah

kembali mengharapkan seseorang
bukan kembali diharapkan oleh seseorang

bukankah mencintai hanya akan dibunuh karena tuntutan untuk dicintai

yaaaa
biarkan saja begini
biarkan kembali menulis, agar tidak lupa rasanya
biarkan kembali mencintai seseorang, agar banyak kata terangkai kembali
biarkan kembali merindukan seseorang, agar kemudian menjadi alasan kita bergerak ke satu tempat
biarkan kembali mengharapkan seseorang, agar hidup berjalan ke depan

biarkan saja
tanpa perlu
dicintai
dirindukan
diharapkan

bukankah
"Allah selalu tahu, hanya menunggu"

ya menunggu

bukan ditunggu :D

Kabel Hitan dan Harapan


Saya tulis ini saat berada disebuah benda bergerak yang membawa saya menuju sebuah kota
di sebuahperjalanan memaafkan

Tentang si kabel hitam..

Saya suka mengamati kabel listrik berwarna hitam
mengamati dan mengikuti gerakannya
diantara saya yang dibawa bergerak oleh suatu benda yang tak punya jumlah roda pasti

tali panjang hitam itu menari dan mengajak saya bermain kejar-kejaran
tali hitam itu terasa amat dekat seakan saat saya mengulurkan jemari keluar
maka saya dapat menyentuhnya dan meminta dia berhenti menari

tali hitam yang masih menari itu mengingatkan saya pada nya
ternyata..
terbesit saya masih mengharapkannya jadi nyata
mata saya masih tertipu pada harapan
masih tertipu akan dia yang saya harapkan, ingin menrai bersama saya
masih tertipu akan dia yang saya rasa dekat dengan saya, meski jauh ternyata
masih tertipu akan dia yang saya harapkan mengajak saya kembali bermain dan bermimpi
dia..
harapan yang seakan dekat padahal amat sangat jauh

lalu?
haruskah saya mengulurkan tangan keluar jendela, mencoba menyentuh tali hitam itu, lalu saya yakin tak tersentuh, maka akan membuat saya luka
sama seperti diamanusia yang seakan terlihat dekat, 
tapi ternyata tak mungkin digapai
ya..
saya harus berdamai dengan kenyataan
kenyataan bahwa tali hitam itu sebenarnya jauh
dia juga tak sungguh sedang menari
tali hitam itu hanya diam
saya yang menari sendiri
ya..
kenyataan bahwa
saya memang sendiri

Monday, April 9, 2012

Asing


lebih sulit mana, bahasa asing atau bahasa lokal?
jelas asing..

lebih susah mana menemukan tempat di daerah sendiri atau di daerah asing?
jelas asing..
sama susahnya 
mencintai orang asing

dia sama sekali tak usang
bahkan hampir sempurna
tapi dia asing
susah
tapi bisakah?
mungkin bisa
seperti bahasa asing yang bisa minta bantuan penerjemah
atau daerah asing yang memerlukan peta
tapi dia
orang asing yang saya bingung siapa penerjemahnya, dimana petanya

mungkin bisa
atau bisa juga tidak

tapi saya serius 
pada orang asing yang tak usang

Mencintai tak beralasan


pernah sangat menyukai seseorang karena tak ada alasan untuk kita tak suka?

sederhananya

seperti menyukai berlian
siapapun bisa dan hampir pasti suka pada berlian
siapa pun kadang mengharapkan memiliki berlian

ada sosok yang menyerupai berlian yang saat melihatnya tak ada alasan untuk tak suka

saya pernah
sosok yang diciptakan tuhan tanpa celah
bukan hanya bentuknya yang baik
tapi perangkatnya juga baik
tapi dia ternyata bukan yang baik untuk saya

kemarin

saya liat batu pualam
entahlah apa itu
batu asing yang saya tak tahu darimana
sosok yang kemudian saya sukai
tak ada alasan juga untuk tak menyukainya
dia pantas disukai
bentuknya menarik

tapi saya bukan hanya menyukainya karena apa yang tuhan bentuk

kali ini tiba-tiba semuanya tanpa alasan
entahlah

saya?

haa
jangan harapkan ada seseorang yang menyukai saya tanpa alasan
bukan pula sosok yang diciptakan dan bisa langsung disukai
jauh dari itu
tapi terserah bagaimana orang melihat saya

saya sedang suka pada batu ini

sangat
saya tak perlu lagi berlian yang kilaunya terlewat menyilaukan
saya tak lagi mengharapakan  batu indah yang pernah datang dan sudah pergi
sekarang saya jujur hanya ingin dia

saya suka batu asing itu tanpa alasan

saya suka senyumnya
saya suka kata-katanya
saya suka suara yang disuakannya
 
 taukah
saya cuman mau itu

tapi saya tau

saya bukan sosok yang diharapkan tanpa alasan
bukan pula perempuan cantik dengan sebongkah kepintaran
bukan perempuan dalam film cinta yang memakai bando berpita
bukan pula perempuan menarik

saya sosok yang tuhan ciptakan dan saya imajinasikan

terserah

tapi saya mau kamu

ya cukuplah
saya mau senyummu

tersenyumlah

tak selalu untuk saya
tak selalu karena saya
karena kamu sosok asing yang saya rasa punya banyak alasan untuk tersenyum


kalau saya egois

saya mau kamu tersenyum karena saya


tapi tetap tersenyumlah

sosok asing yang membuat saya penasaran

saya penasaran

sangat
pada dia yang tak beralasan
pada dia yang menarik perhatian
pada dia yang melupakan ingatan

ketika rindu sesederhana mengecek timeline twitter mu tiap malam, menunggu warna hijau di chat facebookmu, melihat namamu diinbox handphone dan menunggu sebuah sapaan, ketika rindu sesederhana melakukan itu diam-diam di dini hari, ditemani secangkir kopi, di antara tumpukan deadline.

sesederhana rindu yang diam-diam dan berharap tersampaikan.

Karena saya perempuan


karena saya perempuan dan dia laki-laki
dibedakan lagi
tuntutannya beda
mau gimana lagi

karena saya perempuan saya tak berani mengajaknya meminum kopi lebih dulu

saya juga tak berani menyapanya lebih dulu
apalagi tiba-tiba mengajaknya menikmati pertunjukkan musik

sekali lagi cuman karena saya perempuan?


yang lalu saya pernah menyalahi itu

saya perempuan dan saya melakukan apa yang orang bilang tak "perempuan lakukan"
nyatanya
dia yang bilang dirinya "laki-laki" tak suka

karena saya perempuan dan saya cuman ingin disukai

tapi
menunggu itu tak asik
menunggu itu tak menantang

lalu kenapa harus perempuan yang menunggu?

saya cuman ingin mengajaknya berbicara
saya cuman ingin menawarkannya minum kopi bersama
atau sekedar menyapanya

tapi

kata orang saya perempuan
dan saya menunggu
sampai dia yang melakukan itu
kalau dia tak melakukan?

ya

kata orang saya harus diam
perempuan itu dicintai bukan mencintai
cih
saya suka mencintai
tapi sudah lama tak dicintai
kali ini
saya perempuan seperti apa yang orang-orang bilang
maka biarkan menunggu

hei kamu orang asing yang tak sadar juga


karena saya perempuan

saya menunggu

Yang hilang dan yang datang


apa yang hilang?

gak ada yang hilang karena sudah tak ada lagi yang datang


kalau banyak yang hilang itu pasti karena ada yang datang


kini tak ada yang hilang

karena sudah tak ada lagi yang datang

jadi beruntunglah manusia yang pernah kehilangan, karena dia juga pasti pernah mengalami kedatangan


beruntung.

Apa yang beda?


ada yang beda?
ada.
apa?

Saya masih menulis, tapi tulisan ini tak berobjek. Tak ada lagi manusia yang meminta dirangkaikan kata, tak ada lagi manusia yang bisa diceritakan karena banyak cerita. saya masih menulis. Tapi apa yang beda?. yang beda adalah, semua tulisan saya ini bukan buat seseorang dan bukan karena seseorang, tapi karena ini hidup. kalau saya tak menulis saya tak hidup. Jadi apa yang beda?

Friday, April 6, 2012

05 April 2012


'Starry Night' by Vincent Van Gogh*
 
masih pada rangkaian hari yang sama kita menyaksikan langit yang berubah menjadi jingga
lucu, karena bahkan kita tak lihat ia berwarna jingga karena tertutup awan kelabu dan dentuman hujan
namun tetap kita percaya bahwa kemutlakan jingga tak kan tergantikan oleh warna lain
dari jingga kembalilah datang temaram, yang entah mendatangi atau kita datangi
kita berdua terduduk dalam lamunan tanpa akhir, kau dan aku

engkau selalu ada dalam tiada dan dalam ada aku takut engkau kan tiada
impian kita bersambut pada keterbatasan makna yang terangkai oleh kata
dan tiada enggan dapat tersampaikan apabila memaknai relasi kita

engkau berbicara mengenai perihal kebahagiaan yang mungkin tak kan sama
dan aku berkata mengenai pertemuan akan belahan jiwa yang diragukan validitasnya
bahwa elemen-elemen yang saling tarik-menarik bukanlah hasil dari kebetulan semata

ketahuilah sayang, aku tak pernah percaya pada konsep pre-destinasi
namun aku selalu berpegang teguh pada takdir yang berkorelasi dengan masa depan yang acak

sekali lagi engkau berbicara mengenai perihal kebahagiaan yang mungkin tak kan sama, kebahagiaanku..
aku terdiam, dan kita saling mengutuk keterbatasan makna yang dapat tersampaikan oleh emosi semata
betapa emosi yang abstrak itu dapat menghasilkan suatu bias tanda tanya yang tanpa akhir
disertai lamunan serta perdebatan tanpa dasar maupun ujung yang memaknai pertemuan kita malam itu

namun ketahuilah kita tidak berbicara mengenai kesedihan
kita berbicara mengenai perihal kejanggalan yang disebabkan oleh relasi affinitas antara kita berdua

kita tidak mengutuk takdir, tidak..
hanya menjembatani kejenakaannya yang kadang tidak sesuai dengan logika
ya, kejenakaan dan bukan kesedihan..
kejanggalan dan bukan perbedaan..
ketakutan dan bukan keengganan..
segala hal yang merepresentasikan sama rasa diantara kita

aku menggenggam tanganmu dan kau menggenggam tanganku
berharap apa yang kita genggam adalah sebongkah impian yang dapat diraih tanpa adanya turbulensi
bahwa kebahagiaan pun dapat bersembunyi dari faktualitas relasi kontradiktif

ide dan materi, iya sayang, kita memang berkutat dengan itu..
ide dan materi beserta hubungan resiprokalnya
serta berbagai probabilita yang dapat tercipta dari padanya..

namun pergolakan tersebut mengundang datangnya gulita
ia yang datang menggantikan temaram, 
disertai dering tanpa akhir yang seharusnya menyudahi pertemuan kita malam itu

kita pun berjalan,
berusaha sejauh-jauhnya dari faktualitas yang harus bergerak menuju tempatnya masing-masing
dalam perjalanan engkau masih mempertanyakan keabsahan jawaban yang kauterima dariku
dan aku hanya tersenyum sembari menyampaikan rahasia yang masih terkunci rapat dalam benakku
sebuah rahasia yang semestinya terjawab apabila kau melihat 97 derajat ke bawah tanpa bias

dan faktualitas itu pun masih ada, menunggu untuk bergerak
engkau menghantar aku sesampai pada batas akhir pertemuan kita
dan sekali-kali aku tak ingin melepas kepergianmu
seakan hanya ada satu pola yang berlaku malam itu, yakni perpisahan

namun sekali kata pula engkau membawaku kembali pada faktualitas yang menunggu untuk kugerakkan
dan keberadaan berbagai probabilita yang berkorelasi dengannya
aku menatap wajahmu yang bersimbah keremangan malam
dan harus kuakui tiada wajah lain yang lebih bersinar dibanding wajahmu saat itu
seakan nyala redup lampu jalan dikalahkan oleh paras wajahmu yang tiada membisu

sekerling mata itu, secercah senyum itu
pergerakan bibir yang menyatakan kata cinta
serta berbagai sentuhan tanpa makna ganda 
menyentuh lendir yang merupakan hasil korelasi antara kepedihan dan penyakit musiman

perpisahan itu diakhiri dengan kecupan
dengan engkau yang masih berdiri di sana
dan aku yang bergerak perlahan bersama faktualitasku
menyingkapi keharusanmu untuk juga berjalan perlahan menuju faktualitasmu sendiri

kau yang masih berdiri di sana
dan aku yang berada di sini
berpisah jalan di persimpangan
namun bergerak perlahan menuju satu konklusi..

(Rianda Rizky Permata, April-06-2012)

*i'm a huge fan of Van Gogh, and the painting somehow represents the feeling very well..

Me and My Subjective Meaning


Salah satu frase yang sering saya ucapkan, baik dalam ranah akademis maupun kasual, adalah 'pemaknaan subyektif' (subjective meaning). Tidak hanya saya ucapkan, interpretasi serta perwujudannya dalam kehidupan sehari-hari nampaknya menjadi isu yang kerap kali saya pertanyakan. Mungkin hal ini salah satunya diakibatkan oleh kekaguman saya terhadap pemikiran Weber. Namun, di luar itu semua, kadangkala saya pun menyadari betapa pemahaman minimal saya mengenai konsep pemaknaan subyektif ini telah sedikit banyak merubah sudut pandang saya dalam menanggapi hidup. 

Saya kesal, dan ingin marah rasanya ketika saya 'seakan dipaksa' untuk menjadi lebih bijaksana dalam menanggapi berbagai permasalahan sehubungan dengan interaksi sosial saya, baik dengan individu maupun dengan kelompok lain. Bahkan ada kalanya saya merasa sangat amat perlu menggeleng-gelengkan kepala dengan cukup keras untuk membuat konsep tersebut keluar dari kepala saya sambil mengatakan, "HELLO!! I just want to be an 'Ego'!!", sembari memaki pengetahuan saya yang tentunya terbilang masih amat sangat sedikit mengenai konsep tersebut. 

Saya sebenarnya yakin, dengan ada tidaknya empirisisme terhadap konsep tersebut, tiap-tiap individu pastinya secara alamiah menyadari adanya keberadaan pemaknaan subyektif serta keberadaan bentukan kausal dari hal itu. Namun, yang sangat saya sayangkan adalah keberadaan konsep tersebut di dalam kepala saya mempertegas realitanya. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, saya 'seakan dipaksa' untuk menjadi lebih bijaksana dalam menanggapi berbagai permasalahan, saya merasa 'dipaksa' untuk menjadi dewasa, 'dipaksa' untuk berpikir secara mendalam ketika saya hanya ingin menjadi seorang 'ego', di mana secara sederhana diartikan sebagai rasionalitas kesadaran diri saya sendiri. Saya hanya ingin berpikir simpel, self-centered, tanpa harus berpikir keras menganalisa mengenai jalan pemikiran individu-individu lain beserta bentukan kausalnya. Namun apa daya, nasi telah menjadi bubur, dan saya harus hidup sembari dihantui konsep tersebut sepanjang sisa hidup saya.

Dari hasil gerundelan saya di atas, tentunya tidak berlebihan apabila saya mengatakan bahwa konsep 'pemaknaan subyektif' telah sedikit banyak mengubah hidup saya. Bukan saya yang dapat menilai apakah perubahan itu berjalan lebih ke arah positif atau negatif. Namun, satu hal yang pasti, yang sebenarnya sedikit banyak membuat saya ingin tertawa satir, adalah bahwa segala hal yang barusan saya tulis dan keluhkan sebenarnya tak lain dan tak bukan adalah pemaknaan subyektif saya mengenai konsep 'pemaknaan subyektif' itu sendiri. 

Ironis?? sekali lagi, bukan saya yang dapat menilai.. :)


(Rianda Rizky Permata, April-06-2012)