Saya tidak tahu mengapa saya menyukai hujan. Tidak tahu mengapa dari sekian banyak fenomena alam, harus hujan yang jadi favorit, bahkan nomor satu dalam daftar hal-hal favorit milik saya.
Kalau kata Shinchi di komik Detective Conan, "kadang kita tidak butuh alasan untuk menyukai atau membenci sesatu."
Atau, "what comes from heart, touched heart deep."
Mungkin saya simpel menyukai hujan karena pernah ada yang pernah memberikan saya momen di sebuah hujan; ada juga yang pernah membuat saya menangis ditengah hujan; ada yang pernah memberikan saya air hujan sebagai sebuah kado terindah--terbaik--sampai sejuah ini; ada yang pernah membuat saya menyadari bahwa hujan sama halnya seperti manusia - cepat datang, cepat pergi.
Saya tidak pernah tahu.
Sama ketika saya - atau banyak orang diluar sana - memilih untuk mencintai/menyayangi seseorang.
Ada sebuah novel, keluaran Gagas Media berjudul "Marrigeable" yang menulis begini: Sama kayak orang tua ke kita. Mereka tidak pernah bisa memilih anaknya mau seperti apa, yang mereka tahu cuma nerima. Dan apapun bentuknya, mereka bersyukur.
Dari dulu, kita selalu diajarkan untuk mencintai sesuatu tanpa alasan. Dari kecil. Saat kita mempunyai orang tua, kita tidak pernah punya alasan signifikan kenapa harus menyanyangi mereka, selain karena mereka memang mereka adalah orang tua kita.
Atau ketika seorang wanita berusaha menjaga mati-matian anak di dalam rahimnya, tanpa peduli, anak ini cacat/tidak, sempurna/tidak. They just love. A pure love.
Dan ketika ada orang yang bilang, mencintailah dengan matamu..... shoot you!
Kalau dari kecil kita sudah diajarkan untuk mencintai tidak dengan mata, kalau sekarang kita melakukan itu pada orang lain, tidak apa-apa, kan?
Friday, June 1, 2012
Friday, June 1, 2012
Why I Love Rain..
6:46 PM
Posted by
Rianda Rizky Permata
Saya tidak tahu mengapa saya menyukai hujan. Tidak tahu mengapa dari sekian banyak fenomena alam, harus hujan yang jadi favorit, bahkan nomor satu dalam daftar hal-hal favorit milik saya.
Kalau kata Shinchi di komik Detective Conan, "kadang kita tidak butuh alasan untuk menyukai atau membenci sesatu."
Atau, "what comes from heart, touched heart deep."
Mungkin saya simpel menyukai hujan karena pernah ada yang pernah memberikan saya momen di sebuah hujan; ada juga yang pernah membuat saya menangis ditengah hujan; ada yang pernah memberikan saya air hujan sebagai sebuah kado terindah--terbaik--sampai sejuah ini; ada yang pernah membuat saya menyadari bahwa hujan sama halnya seperti manusia - cepat datang, cepat pergi.
Saya tidak pernah tahu.
Sama ketika saya - atau banyak orang diluar sana - memilih untuk mencintai/menyayangi seseorang.
Ada sebuah novel, keluaran Gagas Media berjudul "Marrigeable" yang menulis begini: Sama kayak orang tua ke kita. Mereka tidak pernah bisa memilih anaknya mau seperti apa, yang mereka tahu cuma nerima. Dan apapun bentuknya, mereka bersyukur.
Dari dulu, kita selalu diajarkan untuk mencintai sesuatu tanpa alasan. Dari kecil. Saat kita mempunyai orang tua, kita tidak pernah punya alasan signifikan kenapa harus menyanyangi mereka, selain karena mereka memang mereka adalah orang tua kita.
Atau ketika seorang wanita berusaha menjaga mati-matian anak di dalam rahimnya, tanpa peduli, anak ini cacat/tidak, sempurna/tidak. They just love. A pure love.
Dan ketika ada orang yang bilang, mencintailah dengan matamu..... shoot you!
Kalau dari kecil kita sudah diajarkan untuk mencintai tidak dengan mata, kalau sekarang kita melakukan itu pada orang lain, tidak apa-apa, kan?
Kalau kata Shinchi di komik Detective Conan, "kadang kita tidak butuh alasan untuk menyukai atau membenci sesatu."
Atau, "what comes from heart, touched heart deep."
Mungkin saya simpel menyukai hujan karena pernah ada yang pernah memberikan saya momen di sebuah hujan; ada juga yang pernah membuat saya menangis ditengah hujan; ada yang pernah memberikan saya air hujan sebagai sebuah kado terindah--terbaik--sampai sejuah ini; ada yang pernah membuat saya menyadari bahwa hujan sama halnya seperti manusia - cepat datang, cepat pergi.
Saya tidak pernah tahu.
Sama ketika saya - atau banyak orang diluar sana - memilih untuk mencintai/menyayangi seseorang.
Ada sebuah novel, keluaran Gagas Media berjudul "Marrigeable" yang menulis begini: Sama kayak orang tua ke kita. Mereka tidak pernah bisa memilih anaknya mau seperti apa, yang mereka tahu cuma nerima. Dan apapun bentuknya, mereka bersyukur.
Dari dulu, kita selalu diajarkan untuk mencintai sesuatu tanpa alasan. Dari kecil. Saat kita mempunyai orang tua, kita tidak pernah punya alasan signifikan kenapa harus menyanyangi mereka, selain karena mereka memang mereka adalah orang tua kita.
Atau ketika seorang wanita berusaha menjaga mati-matian anak di dalam rahimnya, tanpa peduli, anak ini cacat/tidak, sempurna/tidak. They just love. A pure love.
Dan ketika ada orang yang bilang, mencintailah dengan matamu..... shoot you!
Kalau dari kecil kita sudah diajarkan untuk mencintai tidak dengan mata, kalau sekarang kita melakukan itu pada orang lain, tidak apa-apa, kan?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment