RSS
Write some words about you and your blog here

Pages

Wednesday, March 21, 2012

NAIF

Cinta itu universal. Membicarakan, mempertanyakan tentang cinta itu sebenarnya tidak ada salahnya kok dan seharusnya tidak langsung serta merta dicap galau.
 Yang anehnya senantiasa dicap demikian, kalau menyinggung cinta sedikit Pencarian makna hidup menggerakkan saya mencari jawab atas tanya arti cinta, usaha yang terkesan naif tapi tak terpungkiri, dilakukan oleh siapapun, tak tamat-tamat.
Dan ketika saya tak mampu mengungkapkannya sendiri, bermunculanlah aneka premis yang muncul di benak saya. Saya hanyalah insan yang clueless, tidak memiliki petunjuk mengenai apa itu cinta. Saya sendiri mendefinisikan cinta hanya sebatas yang saya tahu saja, berdasarkan apa yang saya lihat, apa yang saya dengar, dan apa yang saya rasakan.
Apakah orang dapat memiliki cinta? Kalau dapat, maka cinta itu haruslah merupakan sesuatu yang substansinya dapat dipunyai, dimiliki, atau dikuasai. Benarkah ada “sesuatu apa” yang dinamakan cinta? Banyak dari antara kita termasuk saya memahami cinta pada taraf abstraksi, tak jelas karena tak terlihat, tak mudah terkatakan karena tak terpahamkan, maka sejatinya dalam kenyataan, yang ada hanyalah tindakan mencintai. Mencintai itu menghidupkan.
Dalam artian semu, cinta adalah sumber kebahagiaan. Jika cinta berarti “memiliki”, maka bukankah ia mengimplikasikan upaya membatasi kebebasan, memenjarakan, atau mengontrol obyek yang dicintai?Ini berarti mencekik, melemahkan, membunuh, dan bukan upaya menghidupkan. Apa yang oleh kebanyakan orang dinamakan cinta, dalam banyak hal hanyalah penyalahgunaan kata itu untuk menyembunyikan kenyataan bahwa orang tidak mencintai, sebuah kontradiksi…. Maka, penggunaan istilah “jatuh cinta” pun sejatinya sebuah kontradiksi bukan? Saya bingung.
Berbagai cara ditempuh untuk mendefinisikan cinta, tapi kenapa sulit? Saya hanya bisa menyimpulkan kalau cinta yang total tak terpahamkan oleh akal manusia, maka kalau ada yang merasa yakin mampu mendefinisikan cinta, tak ubahnya jadi usaha pengebirian hakekat cinta. Cinta tak akan pernah memberikan jawaban verbal. Ia tampil saja, mengalir… Menghanyutkan.

0 comments:

Post a Comment

Wednesday, March 21, 2012

NAIF


Cinta itu universal. Membicarakan, mempertanyakan tentang cinta itu sebenarnya tidak ada salahnya kok dan seharusnya tidak langsung serta merta dicap galau.
 Yang anehnya senantiasa dicap demikian, kalau menyinggung cinta sedikit Pencarian makna hidup menggerakkan saya mencari jawab atas tanya arti cinta, usaha yang terkesan naif tapi tak terpungkiri, dilakukan oleh siapapun, tak tamat-tamat.
Dan ketika saya tak mampu mengungkapkannya sendiri, bermunculanlah aneka premis yang muncul di benak saya. Saya hanyalah insan yang clueless, tidak memiliki petunjuk mengenai apa itu cinta. Saya sendiri mendefinisikan cinta hanya sebatas yang saya tahu saja, berdasarkan apa yang saya lihat, apa yang saya dengar, dan apa yang saya rasakan.
Apakah orang dapat memiliki cinta? Kalau dapat, maka cinta itu haruslah merupakan sesuatu yang substansinya dapat dipunyai, dimiliki, atau dikuasai. Benarkah ada “sesuatu apa” yang dinamakan cinta? Banyak dari antara kita termasuk saya memahami cinta pada taraf abstraksi, tak jelas karena tak terlihat, tak mudah terkatakan karena tak terpahamkan, maka sejatinya dalam kenyataan, yang ada hanyalah tindakan mencintai. Mencintai itu menghidupkan.
Dalam artian semu, cinta adalah sumber kebahagiaan. Jika cinta berarti “memiliki”, maka bukankah ia mengimplikasikan upaya membatasi kebebasan, memenjarakan, atau mengontrol obyek yang dicintai?Ini berarti mencekik, melemahkan, membunuh, dan bukan upaya menghidupkan. Apa yang oleh kebanyakan orang dinamakan cinta, dalam banyak hal hanyalah penyalahgunaan kata itu untuk menyembunyikan kenyataan bahwa orang tidak mencintai, sebuah kontradiksi…. Maka, penggunaan istilah “jatuh cinta” pun sejatinya sebuah kontradiksi bukan? Saya bingung.
Berbagai cara ditempuh untuk mendefinisikan cinta, tapi kenapa sulit? Saya hanya bisa menyimpulkan kalau cinta yang total tak terpahamkan oleh akal manusia, maka kalau ada yang merasa yakin mampu mendefinisikan cinta, tak ubahnya jadi usaha pengebirian hakekat cinta. Cinta tak akan pernah memberikan jawaban verbal. Ia tampil saja, mengalir… Menghanyutkan.

0 comments:

Post a Comment